Sign In
Suara MuslimSuara MuslimSuara Muslim
Notification Show More
Font ResizerAa
  • HOME
  • MUSLIM NEWS
    • Nasional
    • Internasional
    • Ragam
    • Silaturahim
  • MUSLIM FAMILY
    • Keluarga
    • Parenting
    • Kesehatan
  • MUSLIM INSPIRE
    • Figur Muslim
    • Figur Muslimah
    • Wirausaha
    • Hidayah
  • MUSLIM STORY
    • Sirah Nabawiyah
    • Ulama Nusantara
    • Kisah Sahabat
  • MUSLIM STUDY
    • Akademia
    • Beasiswa
    • Literasi
  • MUSLIM TOUR
    • Haji Umrah
    • Pariwisata
Reading: Salahuddin Wahid, Sosok yang Senang Membaca dan Produktif Menulis
Share
Suara MuslimSuara Muslim
Font ResizerAa
  • Web Syndication
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • About Us
  • Contact
Search
  • HOME
  • MUSLIM NEWS
    • Nasional
    • Internasional
    • Ragam
    • Silaturahim
  • MUSLIM FAMILY
    • Keluarga
    • Parenting
    • Kesehatan
  • MUSLIM INSPIRE
    • Figur Muslim
    • Figur Muslimah
    • Wirausaha
    • Hidayah
  • MUSLIM STORY
    • Sirah Nabawiyah
    • Ulama Nusantara
    • Kisah Sahabat
  • MUSLIM STUDY
    • Akademia
    • Beasiswa
    • Literasi
  • MUSLIM TOUR
    • Haji Umrah
    • Pariwisata
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise with us
  • Newsletters
  • Deal
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Suara Muslim > Blog > MUSLIM STORY > Ulama Nusantara > Salahuddin Wahid, Sosok yang Senang Membaca dan Produktif Menulis
Ulama Nusantara

Salahuddin Wahid, Sosok yang Senang Membaca dan Produktif Menulis

Last updated: 07/02/2024 14:33
Redaksi
Share
6 Min Read
Salahuddin Wahid
Salahuddin Wahid
SHARE

SUARA MUSLIM | Jakarta–Salahuddin Wahid yang akrab dipanggil Gus Sholah adalah salah satu tokoh kelahiran Jombang, ia putra ketiga dari enam bersaudara pasangan KH. Wahid Hasyim (Ayah) dengan Sholichah (Ibu) dan adik kandung dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selain ulama, ia juga seorang aktifis, politisi, dan tokoh HAM (Hak Asasi Manusia).

Pada tahun 1947 Gus Sholah pindah ke Tebuireng, menyusul wafatnya Kiai Hasyim Asy’ari yang digantikan oleh ayahnya, KH. Wahid Hasyim. Selanjutnya pada awal tahun 1950, ketika ayahnya menjadi Menteri Agama, Gus Sholah pindah ke Jakarta.

Gus Sholah mengenyam pendidikan dasar di SD KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi), dimana para gurunya banyak yang menjadi anggota pergerakan, termasuk orang-orang komunis. Pengalaman di sekolah ini membuatnya terbiasa hidup di lingkungan yang heterogen sehingga terbiasa menghadapi perbedaan. Ketika naik ke kelas IV, ia pindah ke SD Perwari yang terletak di seberang kampus UI Salemba.

Antara tahun 1955-1958, Salahuddin melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri I Cikini. Di SMP ini ia memilih jurusan B (ilmu pasti). Setelah lulus SMP ia masuk SMA Negeri I yang populer dengan sebutan SMA Budut (Budi Utomo). Selama di SMA, ia aktif di Kepanduan Ansor dan OSIS.

Menamatkan SMA tahun 1962 dan melanjutkan pendidikannya ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia memilih jurusan arsitektur. Semasa kuliah, ia aktif di kegiatan Senat Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa. Sejak tahun 1967, ia juga aktif di organisasi mahasiswa ekstra kampus, dan memilih Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai wadah bernaungnya.

Di samping bersekolah, sejak kecil bersama saudara-saudaranya juga belajar mengaji. Ini merupakan aktivitas rutin yang wajib dilakukan setiap hari. Ketika ayahnya masih hidup, kegiatan mengaji dipimpin langsung oleh sang ayah. Setelah wafat, tugas itu diambil alih oleh sang ibu. KH. Bisri Syansuri yang sering ke Jakarta, juga ikut mendidik mereka.

Selain belajar membaca Al-Qur’an, remajanya juga belajar ilmu fiqh, nahwu, sorof, dan tarikh. Guru-gurunya antara lain Ust. Muhammad Fauzi dan Ust. Abdul Ghoffar. Keduanya alumni Pesantren Tebuireng yang tinggal di Jakarta.

Salahuddin sempat merasakan pendidikan pesantren melalui Pesantren Ramadhan. Selama beberapa kali liburan sekolah di bulan Ramadhan, ia belajar ke Pesantren Denanyar Jombang bersama adiknya, Umar Wahid. Menginjak usia dewasa, cara yang ditempuhnya untuk belajar adalah dengan membaca sendiri buku-buku keagamaan.

Gus Sholah menikah dengan Farida tahun 1968, putri mantan Menteri Agama, KH. Syaifudin Zuhri. Pernikahan ini cukup unik, karena keduanya sama-sama anak mantan Menteri Agama. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai tiga orang anak, yaitu Irfan Asy’ari Sudirman (Ipang Wahid), Iqbal Billy, dan Arina Saraswati.

Gus Solah juga banyak memanfaatkan waktunya untuk membaca buku sekaligus mulai menulis. Sejak tahun 1993, beliau menjadi pimpinan redaksi majalah Konsultan. Setalah itu aktif menulis di harian Republika, Kompas, Suara Karya, dan lain sebagainya.

Tulisan-tulisannya banyak menyoroti berbagai persoalan yang sedang dihadapi umat dan bangsa. Pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasannya seringkali berbeda dengan kakak kandungnya, Gus Dur.

Selain menulis di media massa, Gus Solah juga banyak menulis buku. Karya-karyanya yang telah dibukukan, antara lain adalah: Negeri di Balik Kabut Sejarah (November 2001), Mendengar Suara Rakyat (September 2001), Menggagas Peran Politik NU (2002), Basmi Korupsi, Jihad Akbar Bangsa Indonesia (Nopember 2003), Ikut Membangun Demokrasi, Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (Nopember 2004).

Sejak pertengahan tahun 2007, Gus Solah mengumpulkan naskah-naskah tulisannya yang pernah diterbitkan di berbagai media, untuk diterbitkan dalam bentuk buku. Selain itu, Gus Solah juga sering diminta memberikan pengantar pada buku-buku karya penulis lain.

Kemampuan menulis Gus Solah tidak lepas dari kegemarannya membaca sejak usia muda. Kebiasaan itu terus dipertahankan hingga usia tua. Setiap ada waktu longgar, Gus Solah selalu menyempatkan diri membaca.

pada Muktamar NU ke-30 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Gus Solah ikut maju sebagai salah seorang kandidat Ketua Umum PBNU. Gus Solah kemudian terpilih sebagai salah satu ketua PBNU periode 1999-2004. Pada Muktamar NU tahun 2004 di Solo, Gus Solah yang ditawari kembali menjadi ketua PBNU menolak tawaran tersebut.

Keterlibatan Gus Solah di NU sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Pada tahun 1977 ia bersama aktivis muda NU membentuk ”Kelompok G” yang kelak menjadi cikal bakal tim yang mempersiapkan materi kembalinya NU ke Khittah 1926. Namun keterlibatan itu baru diketahui publik sejak tahun 1990-an, dan semakin intens sejak tahun 2000-an.

Pada bulan Pebruari 2006, Pak Ud menelpon Gus Solah dan menyampaikan niatnya untuk mundur dari jabatan pengasuh Tebuireng. Pak Ud meminta Gus Solah untuk menggantikannya. Lalu pada tanggal 12 April 2006, Gus Solah bertemu dengan Pak Ud dan keluarga besar Tebuireng serta para alumni senior, untuk mematangkan rencana pengunduran diri Pak Ud dan naiknya Gus Solah sebagai pengasuh Tebuireng. Keesokan harinya, pergantian pengasuh diresmikan bersamaan dengan acara Tahlil Akbar Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan Temu Alumni Nasional Pondok Pesantren Tebuireng yang dilangsungkan di halaman pondok.

Wafatnya KH. Salahuddin Wahid atau kerap disapa Gus Sholah, Ahad malam 2 Februari 2020 pukul 20.55 di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta menyisakan duka bagi umat Islam di Indonesia. []

 

 

⇒ Berita Suara Muslim, bisa kunjungi dan follow di ⇒ GOOGLE NEWS

You Might Also Like

Syaikh Abdul Ghani al-Bimawi Guru para Ulama di Nusantara

Mengenang KH Moh. Tidjani Djauhari, Sang Mutiara Madura yang Mendunia

Perjuangan Habib Saggaf Bangun Pesantren al-Ashriyyah Nurul Iman Gratis di Parung

Abuya Dimyati Ulama Banten yang Waktunya untuk Ilmu dan Dakwah

Ajengan Ruhiat, Kembangkan Pesantren Cipasung dan Ditahan 4 Kali oleh Penjajah

TAGGED:gus sholahmuslim storysalahuddin wahidtokoh islamtokoh nu
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article Pendiri Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari, Pencetus Resolusi Jihad dalam Pertempuran 10 November 1945
Next Article Masjid Jami Pangkalpinang, Masjid Tertua dan Cagar Budaya di Pangkalpinang
Leave a review

Leave a review Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please select a rating!

Sosmed Suara Muslim

FacebookLike
TwitterFollow
InstagramFollow
TiktokFollow
TelegramFollow
Google NewsFollow

Jasa Blogroll

Kami menyediakan Jasa Blogroll yang berisi tautan website di sidebar. Klik Hubungi Kami:

  • Suara Muslim
  • Suara Pesantren
  • Suara Masjid
  • Seputar Halal.
  • Info Kuliner
  • Cara Sehat
  • Destinasi Indonesia
  • Inilah Kita
  • Beasiswa Kampus
  • Indonesia Sentris
  • Promo UKM
  • Warta Regional
  • Surabaya Kota
  • Berita Santai
  • Dunia Pengamanan
  • Info Bekasi
  • Berita Kamera
  • Dunia Kampus
  • Market
  • Bisnis
Ad imageAd image

Latest News

transplantasi rambut
Hukum Transplantasi Rambut menurut Islam: Antara Mengobati Kebotakan dan Mengubah Ciptaan Allah
Kesehatan 08/10/2026
lppom papua
LPPOM Provinsi Papua Tingkatkan Kompetensi SDM dan Ekosistem Halal
Nasional 26/09/2026
mui papua
MUI Pusat akan Selenggarakan Monev 2026 di MUI Provinsi Papua
Nasional 16/09/2026
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman
Nasional 06/09/2026
tk islam malang
Mengenal PAUD dan TK Islam di Malang sebagai Fondasi Pendidikan Anak Usia Dini
Akademia 05/09/2026
pramuka PUI
Kapolri Dukung Pramuka PUI Perkuat Karakter Kebangsaan Generasi Muda
Nasional 04/09/2026
Suara MuslimSuara Muslim
Follow US
©2024 Suara Muslim | Media Islam Inspirasi Keluarga Muslim
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?