SUARA MUSLIM | Jakarta–Salahuddin Wahid yang akrab dipanggil Gus Sholah adalah salah satu tokoh kelahiran Jombang, ia putra ketiga dari enam bersaudara pasangan KH. Wahid Hasyim (Ayah) dengan Sholichah (Ibu) dan adik kandung dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selain ulama, ia juga seorang aktifis, politisi, dan tokoh HAM (Hak Asasi Manusia).
Pada tahun 1947 Gus Sholah pindah ke Tebuireng, menyusul wafatnya Kiai Hasyim Asy’ari yang digantikan oleh ayahnya, KH. Wahid Hasyim. Selanjutnya pada awal tahun 1950, ketika ayahnya menjadi Menteri Agama, Gus Sholah pindah ke Jakarta.
Gus Sholah mengenyam pendidikan dasar di SD KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi), dimana para gurunya banyak yang menjadi anggota pergerakan, termasuk orang-orang komunis. Pengalaman di sekolah ini membuatnya terbiasa hidup di lingkungan yang heterogen sehingga terbiasa menghadapi perbedaan. Ketika naik ke kelas IV, ia pindah ke SD Perwari yang terletak di seberang kampus UI Salemba.
Antara tahun 1955-1958, Salahuddin melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri I Cikini. Di SMP ini ia memilih jurusan B (ilmu pasti). Setelah lulus SMP ia masuk SMA Negeri I yang populer dengan sebutan SMA Budut (Budi Utomo). Selama di SMA, ia aktif di Kepanduan Ansor dan OSIS.
Menamatkan SMA tahun 1962 dan melanjutkan pendidikannya ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia memilih jurusan arsitektur. Semasa kuliah, ia aktif di kegiatan Senat Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa. Sejak tahun 1967, ia juga aktif di organisasi mahasiswa ekstra kampus, dan memilih Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai wadah bernaungnya.
Di samping bersekolah, sejak kecil bersama saudara-saudaranya juga belajar mengaji. Ini merupakan aktivitas rutin yang wajib dilakukan setiap hari. Ketika ayahnya masih hidup, kegiatan mengaji dipimpin langsung oleh sang ayah. Setelah wafat, tugas itu diambil alih oleh sang ibu. KH. Bisri Syansuri yang sering ke Jakarta, juga ikut mendidik mereka.
Selain belajar membaca Al-Qur’an, remajanya juga belajar ilmu fiqh, nahwu, sorof, dan tarikh. Guru-gurunya antara lain Ust. Muhammad Fauzi dan Ust. Abdul Ghoffar. Keduanya alumni Pesantren Tebuireng yang tinggal di Jakarta.
Salahuddin sempat merasakan pendidikan pesantren melalui Pesantren Ramadhan. Selama beberapa kali liburan sekolah di bulan Ramadhan, ia belajar ke Pesantren Denanyar Jombang bersama adiknya, Umar Wahid. Menginjak usia dewasa, cara yang ditempuhnya untuk belajar adalah dengan membaca sendiri buku-buku keagamaan.
Gus Sholah menikah dengan Farida tahun 1968, putri mantan Menteri Agama, KH. Syaifudin Zuhri. Pernikahan ini cukup unik, karena keduanya sama-sama anak mantan Menteri Agama. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai tiga orang anak, yaitu Irfan Asy’ari Sudirman (Ipang Wahid), Iqbal Billy, dan Arina Saraswati.
Gus Solah juga banyak memanfaatkan waktunya untuk membaca buku sekaligus mulai menulis. Sejak tahun 1993, beliau menjadi pimpinan redaksi majalah Konsultan. Setalah itu aktif menulis di harian Republika, Kompas, Suara Karya, dan lain sebagainya.
Tulisan-tulisannya banyak menyoroti berbagai persoalan yang sedang dihadapi umat dan bangsa. Pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasannya seringkali berbeda dengan kakak kandungnya, Gus Dur.
Selain menulis di media massa, Gus Solah juga banyak menulis buku. Karya-karyanya yang telah dibukukan, antara lain adalah: Negeri di Balik Kabut Sejarah (November 2001), Mendengar Suara Rakyat (September 2001), Menggagas Peran Politik NU (2002), Basmi Korupsi, Jihad Akbar Bangsa Indonesia (Nopember 2003), Ikut Membangun Demokrasi, Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (Nopember 2004).
Sejak pertengahan tahun 2007, Gus Solah mengumpulkan naskah-naskah tulisannya yang pernah diterbitkan di berbagai media, untuk diterbitkan dalam bentuk buku. Selain itu, Gus Solah juga sering diminta memberikan pengantar pada buku-buku karya penulis lain.
Kemampuan menulis Gus Solah tidak lepas dari kegemarannya membaca sejak usia muda. Kebiasaan itu terus dipertahankan hingga usia tua. Setiap ada waktu longgar, Gus Solah selalu menyempatkan diri membaca.
pada Muktamar NU ke-30 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Gus Solah ikut maju sebagai salah seorang kandidat Ketua Umum PBNU. Gus Solah kemudian terpilih sebagai salah satu ketua PBNU periode 1999-2004. Pada Muktamar NU tahun 2004 di Solo, Gus Solah yang ditawari kembali menjadi ketua PBNU menolak tawaran tersebut.
Keterlibatan Gus Solah di NU sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Pada tahun 1977 ia bersama aktivis muda NU membentuk ”Kelompok G” yang kelak menjadi cikal bakal tim yang mempersiapkan materi kembalinya NU ke Khittah 1926. Namun keterlibatan itu baru diketahui publik sejak tahun 1990-an, dan semakin intens sejak tahun 2000-an.
Pada bulan Pebruari 2006, Pak Ud menelpon Gus Solah dan menyampaikan niatnya untuk mundur dari jabatan pengasuh Tebuireng. Pak Ud meminta Gus Solah untuk menggantikannya. Lalu pada tanggal 12 April 2006, Gus Solah bertemu dengan Pak Ud dan keluarga besar Tebuireng serta para alumni senior, untuk mematangkan rencana pengunduran diri Pak Ud dan naiknya Gus Solah sebagai pengasuh Tebuireng. Keesokan harinya, pergantian pengasuh diresmikan bersamaan dengan acara Tahlil Akbar Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan Temu Alumni Nasional Pondok Pesantren Tebuireng yang dilangsungkan di halaman pondok.
Wafatnya KH. Salahuddin Wahid atau kerap disapa Gus Sholah, Ahad malam 2 Februari 2020 pukul 20.55 di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta menyisakan duka bagi umat Islam di Indonesia. []

