SUARA MUSLIM | Jakarta–KH Ruhiat atau Ajengan Ruhiat adalah sosok tokoh kharismatik dari Cipasung Tasikmalaya Jawa Barat. Ia dikenal pendiri Pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya. Ia salah satu tokoh yang konsisten di jalur pendidikan pesantren.
Ajengan Ruhiat lahir dari pasangan Abdul Ghofur dan Umayah pada 11 November 1911. Pada usia remaja, ia dikirim ke pesantren paling terkenal di Singaparna saat itu, Pesantren Cilenga, yang diasuh oleh Kiai Sobandi atau Syabandi.
Sobandi adalah alumni Pesantren Kudang Tasikmalaya, yang meneruskan pendidikannya di Masjid al-Haram, Makkah, di bawah asuhan Syekh Mahfudh al-Tarmasi. Syaikh Mahfudh inilah yang menjadi guru dari sejumlah santri yang kemudian menjadi tokoh-tokoh penting NU, seperti Hasyim Asy’ari.
Pesantren Cipasung merupakan pesantren besar dan berpengaruh di Jawa Barat. Perannya dalam penyiaran agama, pengembangan masyarakat dan menjaga harmoni sosial sangat besar. Selain keteguhannya mengembangkan pesantren di masa penjajahan, Ajengan Ruhiat juga seorang patriot yang mengorbankan tenaga dan pikirannya untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

Tak lama setelah berita Proklamasi Kemerdekaan sampai ke Cipasung, Ajengan Ruhiat segera pergi ke kota Tasikmalaya. Dengan menghunus pedang, ia berpidato di Babancong, podium terbuka yang tak jauh dari Pendopo Kabupaten. Ia menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih cocok dengan perjuangan Islam, oleh karenanya harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Dia tokoh Islam pertama di Tasikmalaya yang melakukan hal itu.
Pondok pesantren yang didirikan pada akhir tahun 1931 santri angkatan pertamanya berjumlah 40 orang, sebagian besar santri yang dibawanya dari Cilenga dan selebihnya warga seputar Cipasung. Pada waktu itu keadaan negara masih dalam genggaman kekuasaan penjajah. Tahun 1935 didirikanlah Sekolah Agama (Madrasah Diniyah), dan sekolah inilah yang pertama kali didirikan di Pesantren Cipasung.
Tahun 1937 didirikanlah Kursus Kader Muballigin Wal Musyawwirin (KKMN) sebagai suatu arena latihan berpidato dan bermusyawarah yang dilaksanakan setiap malam kamis. Akhirnya Pondok Pesantren Cipasung, mengalami kemajuan karena para santriwati dan santriwan dapat mengikuti pengajian kitab-kitab Alfiyyah, Fathul Muin.
Kegigihannya sebagai seorang pejuang dibuktikan dengan pernah dipenjara tak kurang dari empat kali. Pertama, pada tahun 1941 ia dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari bersama pahlawan nasional KH. Zainal Mustafa. Alasan penahanan ini karena Pemerintah Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung dan Sukamanah yang dianggap dapat mengganggu stabilitas kolonial.
Kedua, bersama puluhan kiai ia dijebloskan ke penjara Ciamis. Ia hanya tiga hari di dalamnya karena keburu datang tentara Jepang yang mengambil alih kekuasaan atas Hindia Belanda tahun 1942.
Ketiga, tahun 1944 ia dipenjara oleh pemerintah Jepang selama dua bulan, sebagai dampak dari pemberontakan KH. Zainal Mustofa di Sukamanah. Pada saat itu, Ajengan Cipasung dan Sukamanah lazim disebut dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Keempat, ia di penjara selama sembilan bulan pada aksi polisionil kedua, dan dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan. Ini membuktikan bahwa Ajengan Ruhiat seorang non-kooperatif sehingga sangat dibenci penjajah yang membonceng pasukan NICA itu.
Sebelum masuk penjara yang terakhir, sepasukan tentara Belanda datang ke pesantren pada waktu ia sedang salat ashar bersama tiga orang santrinya. Tanpa peringatan apapun, tentara Belanda itu memberondongkan peluru ke arah mereka yang sedang salat. Ajengan Ruhiat luput dari tembakan, tetapi dua santrinya tewas dan seorang lagi cedera di kepala.
Ajengan Ruhiat konsisten memilih jalur pendidikan pesantren sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekat-nya. “Tarekat Cipasung adalah mengajar santri,” ujarnya. Atau karena tidak pernah menjadi politisi yang berjuang di parlemen. Sebab katanya, “Biarlah bagian politik itu sudah ada ahlinya, Akang memimpin pesantren saja, jangan sampai semua ke politik. Kalau pesantren ditinggalkan, bagaimana nanti jadinya negara merdeka ini kalau penduduknya tidak berakhlak agama?”
Pada tahun 1943, didirikanlah Kursus Kader Muballighoh sebagai arena latihan berpidato khusus bagi santriwati. Pada tahun 1949 didirikanlah lembaga sekolah formal yaitu Sekolah Pendidikan Islam (SPI), pada akhir tahun 1953 didirikan pula Sekolah Rendah Islam (SRI), tahun 1959 didirikanlah Sekolah Menengah Atas Islam (SMAI), 25 September 1965 berdirilah Fakultas Tarbiyah.
Pada tahun 1969 didirikan pula Sekolah Persiapan IAIN yang kemudian pada tahun 1978 berubah namanya menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN), dan Pada tahun 1970 didirikan pula fakultas Ushuluddin filiyal Cipasung.
Kecintaan sang Ajengan pada Nahdlatul Ulama (NU) sangat mendalam, oleh karena itu pada saat Ajengan Sukamanah berbulat tekad untuk melawan Jepang, keduanya membuat kesepakatan. Ajengan Sukamanah tidak akan melibatkan NU secara organisasi dan perjuangannya bersifat pribadi, agar NU tidak menjadi sasaran tembak tentara Jepang.
Secara organisatoris, Ajengan Sukamanah menyatakan keluar dari NU (Aiko Kurasawa,1993). Dengan kesepakatan ini, jika terjadi akibat buruk dari perlawanannya sesuatu yang sudah mereka perhitungkan, organisasi NU tidak akan terbawa-bawa dan Ajengan Ruhiat tetap bisa mengembangkan NU di Tasikmalaya dan Jawa Barat. Kesepakatan itu dibuktikan oleh Ajengan Ruhiat lewat keterlibatannya di NU sampai ke tingkat pusat.
Kariernya di PBNU dibuktikan dengan menjadi A’wan (pembantu) Syuriah PBNU periode 1954-56 dan 1956-59, serta perkembangan NU di Tasikmalaya dan Jawa Barat yang ditunjang oleh para alumni Cipasung.
Ajengan Ruhiat memang dikenal dekat dengan tokoh-tokoh NU dan pesantrennya menjadi persinggahan para tokoh itu jika mengunjungi wilayah Priangan Timur. Ia juga menjadi salah satu teman baik KH. A. Wachid Hasyim. Menurut catatan Saifuddin Zuhri (1987), semua sahabat dekat Pak Wachid biasanya intensif saling surat-menyurati untuk merespon berbagai perkembangan pesantren dan situasi politik nasional.
Dengan cara pandangnya yang terbuka atas berbagai perkembangan duniawi, ia mendorong santrinya yang ingin terlibat dalam pengelolaan negara, baik melalui jalur politik maupun birokrasi. Hal itu sebagai bagian dari keikutsertaan mengisi kemerdekaan, setelah sebelumnya kiai dan santri ikut merebut dan mempertahankan kemerdekaan itu. Karena itu, banyak alumni Cipasung yang menjadi politisi dan mengisi kebutuhan birokrasi terutama di Jawa Barat.
Ajengan Ruhiat adalah seorang patriot yang mengorbankan tenaga dan pikirannya untuk kemerdekaan Republik Indonesia. Ajengan Ruhiat lahir pada 11 Nopember 1911 dan wafatnya tanggal 28 November 1977 hari wafatnya bertepatan dengan tanggal 17 Dzulhijjah 1397 yang dijadikan patokan untuk peringata haul-nya. []

