SUARA MUSLIM | Jakarta–Ketika dunia pendidikan di Indonesia ramai dengan pendidikan gratis, justru dari Parung, seorang Habib bernama Habib Saggaf bin Mahdi bin Syeikh Abu Bakar telah menerapkannya. Pendidikan gratis ini bermula saat krisis moneter melanda bangsa Indoensia.
Ketika terjadi krisis politik dan ekonomi tahun 1998, Habib Saggaf yang mulanya aktif menghidupkan majelis taklim di Masjid Agung Bintaro ini akhirnya hijrah ke Parung, Bogor.
Krisis moneter yang melanda bangsa Indonesia saat itu telah menghancurkan sendi-sendir perekonomian bangsa. Tak terkecuali masyarakat Desa Warujaya. Atas dasar itulah, Habib Saggaf berinisiatif mengumpulkan anak-anak sekolah di rumahnya.
Bukan tanpa alasan memanggil anak-anak sebelum sekolah ke rumahnya, ternyata mereka mendapatkan sebungkus makanan dan uang sangu untuk sekolah. “Sebelum sekolah mereka makan nasi ketan di rumah. Tiap anak saya kasih uang jajan Rp 250. Dan tiap keluarga kita bagi beras 5 kg,” katanya.
Ketika anak-anak yang datang ke Habib Saggaf kian banyak, datanglah seorang santri asal Wonogiri, Solo, bernama Prawoto Suwito. Kedatangannya memberikan spirit bagi Saggaf untuk mendirikan pesantren. Maka tercetuslah sebuah pesantren gratis di Parung bernama Pesantren al-Ashriyyah Nurul Iman.
Kian lama pesantren yang ia rintis kian besar, bahkan sebelum Habib Saggaf meninggal dunia pada Jum’at, 12 November 2010 lalu, jumlah santrinya mencapai 18 ribu santri. Semuanya tidak dipungut biaya oleh pesantren, alias gratis.
Diakui Saggaf, ikhtiar ekonomi para santrinya belum cukup untuk menghidupi pesantren itu. Karena itulah, dia menerima beberapa dermawan mensedekahkan hartanya untuk kepentingan keberlangsungan pesantrennya.
“Dua masjid itu sumbangan dari orang yang sama,” ungkap Saggaf menjelaskan asal usul dua masjid besar di dalam pesantren. Satunya berkapasitas 5.000 orang untuk santri laki-laki dan sebuah lagi, berkapasitas 3.000 orang untuk santri perempuan.
Tak hanya itu, beberapa perkumpulan agama non-Islam turut menyumbang konsumsi, tenaga pengajar, gedung olah raga dan asrama. Jadi, jangan heran jika di depan masjidnya berdiri dojo Taekwondo seluas 200 m2, sumbangan dari pengusaha Korea Selatan, Park Young Soo.
Pesantren yang pernah ia pimpin ini kian besar. Selain beribadah dan belajar, pesantren ini juga melatih santrinya beberapa keterampilan hidup, seperti bertani, mendaur ulang sampah dan memroduksi roti, dan lain sebagainya.
Pesantren ini menyediakan pengajaran tingkat Anak Usia Dini, TK, SD, SMP, SMA, dan Sekolah Tinggi. Seluruh gedung adalah hasil sumbangan dari para donatur dan infaq orang tua santri. Bahkan salah satu diantaranya adalah sumbangan dari organisasi keturunan India di Indonesia, Gandhi Sevaloka.
Hadirnya beberapa bangunan dari sumbangan komunitas non-muslim itu, menurut Habib, karena dirinya tak segan bergaul dengan siapa pun. “Kadang beberapa pendeta tidur di sini untuk mempelajari sistem ponpes ini,” katanya.
Habib Saggaf juga terus menanamkan toleransi antar pemeluk agama di negeri ini. Karenanya, ia menyayangkan aksi kekerasan sekelompok orang dengan mencatut Islam. “Akibatnya Islam dipandang salah. Orang Islam dianggap ‘tukang makan orang’,” ujarnya lugas.
Perjuangan Habib Saggaf dalam dunia pendidikan gratis dan sepak terjang ulama sudah diprediksi oleh sang guru, ketika ia masih nyantrio di Bondowoso Jawa Timur. Saat itu, sang guru Habib Soleh bin Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar mengatakan, “Nanti, kamu jadi ulama besar dan kaya raya. Kamu masuk pondok saja. Berangkatlah tawakkaltu.”
Kalimat yang meluncur dari sang guru masih meragukannya, pasalnya sejak kecil ia tak pernah mondok. Akhirnya ia pun nyantri di Pesantren Darul Hadits di Malang. Di depan pintu, Saggaf diterima pendiri Darul Hadits, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih al-Alawy. “Kamu musti belajar baca al-Qur’an,” katanya seraya memegang kuping Saggaf.
Setelah 13 tahun nyantri di Malang, Saggaf berguru ke Masjid Sayyidina Abbas di Aljazair selama 5 tahun dan i’tikaf di Makkah selama 5 tahun. Saggaf juga memperdalam tareqat di Irak. Namun ia harus kembali ke Tanah Air.
Dia pun lantas kembali ke Dompu mendirikan Ponpes Ar-Rahman. Tak lama berselang, Saggaf pindah ke Parung Bogor mendirikan Ponpes al-‘Ashriyyah Nurul Iman. Sebelum ke Parung, Saggaf mendirikan Ponpes Nurul Ulum di Kali Mas Madya, Surabaya, yang banyak menerima murid dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Afrika.
Setelah meninggalnya Habib Saggaf pada Jumat 12 September 2010 lalu, kepemimpinan pesantren dikelola oleh istrinya Ummi Waheeda, orang nomer dua perintis sekaligus pendamping setia almarhum Habib Saggaf. Ucap singkat namun sarat makna yang beliau tinggalkan adalah “Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman harus tetap gratis sampai kiamat”. []

