Sign In
Suara MuslimSuara MuslimSuara Muslim
Notification Show More
Font ResizerAa
  • HOME
  • MUSLIM NEWS
    • Nasional
    • Internasional
    • Ragam
    • Silaturahim
  • MUSLIM FAMILY
    • Keluarga
    • Parenting
    • Kesehatan
  • MUSLIM INSPIRE
    • Figur Muslim
    • Figur Muslimah
    • Wirausaha
    • Hidayah
  • MUSLIM STORY
    • Sirah Nabawiyah
    • Ulama Nusantara
    • Kisah Sahabat
  • MUSLIM STUDY
    • Akademia
    • Beasiswa
    • Literasi
  • MUSLIM TOUR
    • Haji Umrah
    • Pariwisata
Reading: Regulasi Haji Sendiri-Sendiri, Furoda yang Tragis
Share
Suara MuslimSuara Muslim
Font ResizerAa
  • Web Syndication
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • About Us
  • Contact
Search
  • HOME
  • MUSLIM NEWS
    • Nasional
    • Internasional
    • Ragam
    • Silaturahim
  • MUSLIM FAMILY
    • Keluarga
    • Parenting
    • Kesehatan
  • MUSLIM INSPIRE
    • Figur Muslim
    • Figur Muslimah
    • Wirausaha
    • Hidayah
  • MUSLIM STORY
    • Sirah Nabawiyah
    • Ulama Nusantara
    • Kisah Sahabat
  • MUSLIM STUDY
    • Akademia
    • Beasiswa
    • Literasi
  • MUSLIM TOUR
    • Haji Umrah
    • Pariwisata
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise with us
  • Newsletters
  • Deal
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Suara Muslim > Blog > MUSLIM STUDY > Akademia > Regulasi Haji Sendiri-Sendiri, Furoda yang Tragis
Akademia

Regulasi Haji Sendiri-Sendiri, Furoda yang Tragis

Di Tanah Air kita yang gemar menyambut bencana dengan doa, dan mengakhiri polemik dengan siaran pers yang mengimbau “mohon bersabar"

Last updated: 08/06/2025 07:03
Redaksi
Share
6 Min Read
haji furoda tragis
SHARE

SUARAMUSLIM.ID | Di Tanah Air kita yang gemar menyambut bencana dengan doa, dan mengakhiri polemik dengan siaran pers yang mengimbau “mohon bersabar, ini ujian,” kisah haji furoda yang tragis tahun ini layak masuk nominasi Sinetron Lebaran Terbaik.

Bedanya, tak ada soundtrack religi yang menyejukkan. Hanya ribuan calon jemaah haji yang menggigit bibir —bukan karena haru, tapi karena Rp 300-400 juta uang mereka menguap seperti air zamzam dituang ke gurun. Dibalut campur malu karena sudah selamatan haji di rumah.

Mari kita mulai dari tokoh antagonisnya: visa furoda, artinya sendiri-sendiri, alias pakai visa mujamalah, alias jalur “khusus tapi gak resmi,” alias harapan palsu berkedok janji surgawi. Istilah furoda sendiri muncul di al-Qur’an dalam ayat 94 surah al-An’am.

Tahun-tahun sebelumnya, visa untuk haji furoda ini hadir sebagai angin segar bagi jamaah berduit. Mereka umumnya yang tak sabar menunggu antrean haji reguler yang panjangnya bisa menyaingi usia harapan hidup. Tak sedikit pula mereka sudah berusia di atas 60 tahun.

Tapi tahun ini, Pemerintah Arab Saudi memutuskan: tidak ada satu pun visa furoda diterbitkan untuk Indonesia. Nihil. Zero. Nehe. Padahal, visa ini masih keluar untuk negara-negara lain, misalnya Mesir, meskipun tak begitu jelas berapa jumlahnya.

Kegagalan berhaji foruda memunculkan nyanyian, “Minal furoda, ila rumah saja,” begitu kira-kira. Lalu siapa yang disalahkan? Bukan Arab Saudi, tentu. Mereka kabarnya menyetop visa jenis siyahah alias visa turis ini untuk kita karena jamaah kita sulit diatur.

Saudi beralasan diplomatis, bahwa visa tak dikeluarkan karena hanya sedang menata ulang sistem perhajian agar tidak lagi ada jemaah yang tidur di trotoar Arafah atau menyamar sebagai petugas kebersihan demi bisa lempar jumrah. Padahal, sejatinya mereka pusing ngatur kita.

Pemerintah kita? DPR kita? Mereka dengan sigap menggelar jumpa pers penuh pengakuan: “Maaf, itu bukan domain kami.” Dan seperti biasa, kita kembali ke mantra nasional kita yang sakti: “Kami mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati.”

Sementara itu, ribuan calon jemaah haji furoda menghadapi kenyataan pahit: uang mereka tertahan di travel yang dulunya menjanjikan “berangkat cepat, tanpa antre, langsung cium Hajar Aswad.” Kini, yang dicium kenyataan bahwa refund uang tak semudah transfer.

Pemerintah, yang selama ini pura-pura masa bodo, memang sudah minta baik-baik agar travel mengembalikan uang jemaah secara utuh. Tapi kita semua tahu, antara permintaan pemerintah dan realitas lapangan ada jurang bernama: “Syarat dan ketentuan berlaku.”

Yang lebih kocak —jika tak ingin menyebut tragis— adalah pernyataan bahwa visa furoda ini bukan tanggung jawab pemerintah. Alasannya, karena hubungan antara Arab Saudi dan travel bersifat B2G (business to government). Lucu, bukan?

Saat promo haji furoda menjamur di medsos, semua diam. Tapi saat ribuan orang gagal berangkat, kita mendadak cuci tangan sebersih-bersihnya seperti baru keluar dari wudhu. Pemerintah dan wakil rakyat di DPR tahu ada masalah, tapi mereka cuek bebek.

Padahal beberapa jemaah bahkan mengaku sudah menyetor bukan ke travel, tapi ke oknum tertentu yang mengaku bisa “mengurus” visa. Rasanya seperti membeli tiket konser dengan janji bisa peluk penyanyinya langsung —eh, ternyata zonk.

Tapi jangan buru-buru pesimis. Sebetulnya jika mau, kita bisa belajar dari Mesir, misalnya. Negara dengan kouta haji hanya 32 ribu itu mengatur haji non-kuota mereka dengan sistem elektronik yang ketat. Pemerintah tak tinggal diam dengan mengatur furoda bersama Saudi.

Setiap visa harus punya barcode, terdaftar di sistem e-Hajj Arab Saudi, disertai kontrak akomodasi, detail maktab, bahkan nomor telepon jemaah. Travelnya pun diawasi. Tidak ada istilah “sudah lunas tapi tak terdaftar.” Dengan begitu, pihak Saudi sendiri tak pusing-pusing ngatur.

Kalau Mesir bisa, kenapa kita tidak? Atau jangan-jangan kita terlalu sibuk membuat poster digital “Waspada Travel Bodong” sampai lupa membuat regulasi yang tegas? Atau malahan jangan-jangan selama ini haji furoda jadi lahan oknum untuk korupsi tanpa terdeteksi KPK.

Akhirnya, polemik visa furoda ini bukan hanya soal gagal berangkat haji. Ia adalah cermin buram dari sistem perhajian kita yang terlalu percaya pada good faith travel agent, tapi lupa menyiapkan legalitas dan pengawasan yang baik.

Ia juga menjadi pengingat bahwa ibadah sebesar haji tak boleh diserahkan pada janji-janji kosong dan brosur berkilau. Tahun depan, saat pemerintah sudah tak lagi menangani langsung pelaksanaan haji, sudah waktunya fokus ke regulasi, termasuk haji furoda.

Jika negara hendak meniru Mesir dengan ingin tetap membuka ruang untuk haji non-kuota, maka regulasi adalah harga mati. Jangan biarkan visa mujamalah terus menjadi visa mujalasah —yang hanya membuat jemaah duduk termenung, mengenang duit ratusan juta yang raib.

Dan bagi para jemaah masa depan, semoga episode furoda 2025 ini jadi pelajaran berharga: tidak semua jalan pintas menuju Tanah Suci adalah jalan yang disucikan. Kembalilah menyucikan niat untuk berhaji, tapi mesti tetap menempuh cara berhaji yang legal dan aman.

Catatan Cak AT – Ahmadie Thaha (Kolumnis)
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 8/6/2025

⇒ Berita Suara Muslim, bisa kunjungi dan follow di ⇒ GOOGLE NEWS

You Might Also Like

Mengenal PAUD dan TK Islam di Malang sebagai Fondasi Pendidikan Anak Usia Dini

Sebanyak 121 Santri Madinatul Qur’an Lulus Hafalan al-Qur’an, 7 Santri Khatam 30 Juz

Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar

Bogor Barat Membutuhkan Keragaman Sarjana

Inilah 7 Program Prioritas Dr. Faisal Eskalasi IAIN Jadi UIN Fattahul Muluk Papua

TAGGED:ahmadie thahahaji furodahaji sendiri
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article Apa Aktivitas Keseharian Dr. Zakir Naik Saat di Rumah Apa Aktivitas Keseharian Dr. Zakir Naik Saat di Rumah?
Next Article Bagaimana Sebaiknya Muslim Menonton Drama Korea Bagaimana Sebaiknya Muslim Menonton Drama Korea?

Sosmed Suara Muslim

FacebookLike
TwitterFollow
InstagramFollow
TiktokFollow
TelegramFollow
Google NewsFollow

Jasa Blogroll

Kami menyediakan Jasa Blogroll yang berisi tautan website di sidebar. Klik Hubungi Kami:

  • Suara Muslim
  • Suara Pesantren
  • Suara Masjid
  • Seputar Halal.
  • Info Kuliner
  • Cara Sehat
  • Destinasi Indonesia
  • Inilah Kita
  • Beasiswa Kampus
  • Indonesia Sentris
  • Promo UKM
  • Warta Regional
  • Surabaya Kota
  • Berita Santai
  • Dunia Pengamanan
  • Info Bekasi
  • Berita Kamera
  • Dunia Kampus
  • Market
  • Bisnis
Ad imageAd image

Latest News

transplantasi rambut
Hukum Transplantasi Rambut menurut Islam: Antara Mengobati Kebotakan dan Mengubah Ciptaan Allah
Kesehatan 08/10/2026
lppom papua
LPPOM Provinsi Papua Tingkatkan Kompetensi SDM dan Ekosistem Halal
Nasional 26/09/2026
mui papua
MUI Pusat akan Selenggarakan Monev 2026 di MUI Provinsi Papua
Nasional 16/09/2026
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman
Nasional 06/09/2026
tk islam malang
Mengenal PAUD dan TK Islam di Malang sebagai Fondasi Pendidikan Anak Usia Dini
Akademia 05/09/2026
pramuka PUI
Kapolri Dukung Pramuka PUI Perkuat Karakter Kebangsaan Generasi Muda
Nasional 04/09/2026
Suara MuslimSuara Muslim
Follow US
©2024 Suara Muslim | Media Islam Inspirasi Keluarga Muslim
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?