SUARAMUSLIM.ID| Dr. Zakir Naik, nama yang tak asing lagi dalam dunia dakwah internasional. Dikenal sebagai salah satu pendakwah paling berpengaruh di dunia Islam, pria kelahiran India ini tidak hanya menggetarkan panggung-panggung ceramah dengan logikanya yang tajam, tetapi juga menghadirkan inspirasi lewat gaya hidup dan rutinitas hariannya yang penuh dedikasi.
Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama Richard Lee, terbuka kisah menarik tentang keseharian dan pemikiran Dr. Zakir Naik yang selama ini jarang diketahui publik.
Kedisiplinan Waktu yang Tidak Lazim
Ketika ditanya soal rutinitas harian, banyak orang akan tercengang mendengarnya. Dr. Zakir Naik mengaku hanya tidur rata-rata 3,5 jam per hari. Jadwalnya jauh dari kebiasaan orang pada umumnya.
Waktu malam ia hanya tidur sekitar 15-20 menit, lalu bangun untuk shalat Tahajud. Setelah itu, dilanjutkan dengan shalat Subuh, sarapan, dan melakukan aktivitas membaca sebentar sebelum akhirnya tidur kembali dan bangun untuk shalat Dhuha hingga waktu Dhuhur tiba.
Total waktu tidur dalam sehari hanya berkisar antara 2,5 hingga 4,5 jam. Walaupun ia menyadari bahwa kondisi ini tidak ideal secara medis. Dr. Zakir menegaskan bahwa pola ini bukan untuk ditiru. Ia menegaskan bahwa manusia normal memerlukan setidaknya 7 hingga 9 jam tidur per hari agar bisa berfungsi dengan baik. Hanya sekitar 0,5% populasi dunia yang mampu berfungsi secara optimal dengan tidur di bawah 6 jam per hari.
“Saya seorang dokter medis, jadi saya tahu bahwa manusia normal tidak bisa berfungsi baik tanpa cukup tidur. Tapi dengan rahmat Allah, saya tetap bisa melakukannya,” ujar Dr. Zakir.
Berdoa dan Menyaksikan Sunset dari Balkon Apartemen
Salah satu hal yang sangat ditekankan Dr. Zakir Naik adalah pentingnya memanfaatkan waktu-waktu mustajab dalam berdoa, terutama di bulan Ramadan. Ia menyampaikan bahwa:
“Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu terbaik untuk berdoa. Di antara malam-malam itu, salah satunya bisa jadi adalah malam Lailatul Qadar—malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bisa malam ganjil ke-21, 23, 25, 27, atau 29—kita tidak tahu pasti, namun kita diperintahkan untuk mencarinya dan memperbanyak doa.”
Selain itu, beliau juga menyebutkan waktu khusus lainnya yang sangat dianjurkan untuk berdoa, yaitu shalat Jumat, selain itu waktu Ashar hingga Maghrib. Dalam momen seperti ini, Dr. Zakir biasa duduk di balkon apartemennya, menghadap kiblat, sambil menyaksikan matahari terbenam—sebuah pemandangan yang menurutnya sangat menenangkan dan mengingatkannya pada kebesaran Allah.
Dr. Zakir tinggal di sebuah apartemen di Malaysia. Mengapa memilih Malaysia? (akan dibahas selanjutnya). Ia menyebutkan bahwa dari balkon apartemennya, ia juga bisa melihat Masjid Putra dan Masjid Besi—dua masjid megah yang menjadi ikon wilayah Putrajaya, Malaysia.
Shalat Lebih Lama dari Tidur
Apa kegiatan utama Dr. Zakir Naik dalam sehari? Jawabannya mengejutkan: shalat lebih banyak dari tidur. “Rata-rata, saya menghabiskan 5 hingga 5,5 jam setiap hari hanya untuk shalat. Ini sudah termasuk waktu wudhu, berjalan ke masjid, salat wajib dan sunnah, serta salat malam (tahajud) selama dua jam.”
Rinciannya, setiap salat wajib memakan waktu sekitar 40 menit—dari wudhu hingga kembali ke rumah. Bila dikalikan lima waktu, totalnya sekitar 200 menit. Ditambah salat sunnah seperti Dhuha dan Witir, serta tahajud dua jam setiap malam, maka total waktu ibadah beliau dalam sehari mencapai lebih dari 5 jam 30 menit.
Tidur Rata-rata Hanya 3,5 Jam Sehari
Yang mengejutkan, Dr. Zakir mengaku hanya tidur rata-rata 3,5 jam sehari.
“Rata-rata saya tidur sekitar 3 hingga 4 jam sehari. Kadang-kadang bahkan hanya 2,5 jam. Ini tentu bukan hal yang saya anjurkan kepada orang lain, karena secara medis tidak sehat.”
Sebagai seorang dokter medis, beliau menekankan bahwa kebutuhan tidur normal bagi manusia adalah 7 hingga 9 jam sehari. Kurang dari itu, mayoritas manusia akan mengalami penurunan fungsi tubuh dan konsentrasi. Hanya sebagian kecil manusia—sekitar 0,5% atau satu dari 200 orang—yang secara genetik mampu berfungsi normal dengan tidur kurang dari 6 jam sehari.
Namun, bagi Dr. Zakir, ini adalah pengecualian yang ia yakini sebagai karunia dari Allah SWT. Karena aktivitas dakwahnya begitu padat dan menyita waktu, ia berusaha mengatur energi dan waktu seefisien mungkin, termasuk dengan tidur yang sangat terbatas.
12 Jam Sehari untuk Dakwah
Jika waktu tidur hanya 3,5 jam dan waktu shalat sekitar 5,5 jam, lalu ke mana sisa waktunya? Jawabannya adalah: dakwah.
“Saya menghabiskan sekitar 12 jam sehari untuk berdakwah. Ini termasuk menulis, membaca, ceramah, menjawab pertanyaan, dan riset perbandingan agama.”
Waktu untuk keluarga dan kegiatan pribadi seperti makan dan mandi, menurutnya hanya sekitar 2 jam sehari. Sisanya, ia fokus mengedukasi umat dan menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan yang logis dan ilmiah.
Kesederhanaan Seorang Tokoh Besar
Richard Lee yang mewawancarai Dr. Zakir sempat terheran-heran dengan kesederhanaan hidupnya. Sebagai tokoh internasional yang dikenal luas, Dr. Zakir tidak hidup mewah. Ia tidak memamerkan kekayaan atau fasilitas berlebihan.
“Saya berpikir Anda hidup dalam kemewahan, ternyata justru sangat sederhana. Saya benar-benar kagum,” kata dr. Richard.
Kesederhanaan Dr. Zakir bukan hanya terlihat dari gaya hidupnya, tetapi juga dari pemikiran dan keikhlasannya dalam berdakwah. Bagi beliau, hidup bukan untuk popularitas atau kenyamanan dunia, melainkan untuk meraih ridha Allah dan memberi manfaat seluas mungkin untuk umat.[]

