Sign In
Suara MuslimSuara MuslimSuara Muslim
Notification Show More
Font ResizerAa
  • HOME
  • MUSLIM NEWS
    • Nasional
    • Internasional
    • Ragam
    • Silaturahim
  • MUSLIM FAMILY
    • Keluarga
    • Parenting
    • Kesehatan
  • MUSLIM INSPIRE
    • Figur Muslim
    • Figur Muslimah
    • Wirausaha
    • Hidayah
  • MUSLIM STORY
    • Sirah Nabawiyah
    • Ulama Nusantara
    • Kisah Sahabat
  • MUSLIM STUDY
    • Akademia
    • Beasiswa
    • Literasi
  • MUSLIM TOUR
    • Haji Umrah
    • Pariwisata
Reading: Ramadhan Sebagai Titik Balik Paradigma Ekonomi
Share
Suara MuslimSuara Muslim
Font ResizerAa
  • Web Syndication
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • About Us
  • Contact
Search
  • HOME
  • MUSLIM NEWS
    • Nasional
    • Internasional
    • Ragam
    • Silaturahim
  • MUSLIM FAMILY
    • Keluarga
    • Parenting
    • Kesehatan
  • MUSLIM INSPIRE
    • Figur Muslim
    • Figur Muslimah
    • Wirausaha
    • Hidayah
  • MUSLIM STORY
    • Sirah Nabawiyah
    • Ulama Nusantara
    • Kisah Sahabat
  • MUSLIM STUDY
    • Akademia
    • Beasiswa
    • Literasi
  • MUSLIM TOUR
    • Haji Umrah
    • Pariwisata
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise with us
  • Newsletters
  • Deal
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Suara Muslim > Blog > MUSLIM STUDY > Akademia > Ramadhan Sebagai Titik Balik Paradigma Ekonomi
Akademia

Ramadhan Sebagai Titik Balik Paradigma Ekonomi

Dr. Abdur Rohman.S.Ag.M.E.I. (Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunodjoyo Madura)

Last updated: 20/02/2026 13:08
Redaksi
Share
5 Min Read
Dr. Abdur Rohman.S.Ag.M.E.I. (Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunodjoyo Madura)
SHARE

Suaramuslim.id | Setiap Ramadhan datang, jutaan umat Islam menahan lapar dan dahaga. Namun ironisnya, konsumsi justru meningkat, pusat perbelanjaan penuh, dan belanja rumah tangga melonjak. Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadhan belum sepenuhnya dimaknai sebagai momentum transformasi. Padahal, di balik ibadah puasa tersimpan pesan besar tentang arah baru ekonomi: dari orientasi material menuju paradigma tauhid.

Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan yang berulang. Dalam perspektif Islam, Ramadhan merupakan momentum transformasi spiritual yang sejatinya juga membawa pesan ekonomi. Puasa tidak hanya melatih kesabaran individual, tetapi juga mengajarkan disiplin sosial dan ekonomi. Di sinilah Ramadhan dapat dibaca sebagai ruang rekonstruksi paradigma ekonomi—dari orientasi materialistik menuju ekonomi berbasis tauhid.

Paradigma ekonomi modern yang dominan hari ini bertumpu pada rasionalitas instrumental: keuntungan maksimal, pertumbuhan tanpa batas, dan akumulasi kapital. Dalam kerangka ini, manusia diposisikan semata sebagai homo economicus. Akibatnya, ketimpangan sosial melebar, eksploitasi sumber daya meningkat, dan nilai moral tersisih dari praktik ekonomi.

Islam menawarkan paradigma berbeda. Tauhid menjadi fondasi utama sistem ekonomi. Tauhid menegaskan bahwa seluruh aktivitas ekonomi berada dalam bingkai penghambaan kepada Allah SWT. Harta bukan tujuan, melainkan amanah. Kepemilikan bersifat relatif, sementarakepemilikan absolut berada pada Allah (QS. Al-Hadid: 7). Dengan demikian, ekonomi Islam tidak berhenti pada persoalan efisiensi, tetapi juga menempatkan keadilan dan keberkahansebagai orientasi.

Ramadhan menghadirkan latihan konkret atas paradigma ini. Puasa membentuk kesadaranbahwa kebutuhan manusia tidak tak terbatas. Menahan lapar dan dahaga sejak fajar hinggamagrib mengajarkan pengendalian diri, sekaligus menumbuhkan empati terhadap kelompokrentan. Dalam konteks ekonomi, puasa mendidik manusia untuk tidak terjebak dalamkonsumerisme dan gaya hidup berlebihan.

Lebih jauh, Ramadhan mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu diukur oleh kepemilikanmateri. Dalam Islam, ukuran keberhasilan adalah maslahat. Inilah yang kemudian dirumuskanpara ulama dalam konsep maqashid syariah: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Aktivitas ekonomi idealnya bergerak dalam koridor ini. Pertumbuhan ekonomi yang mengabaikan keadilan sosial sejatinya bertentangan dengan spirit maqashid.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Imam Al-Ghazali. Dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulum al-Din, Al-Ghazali menegaskan bahwa harta hanyalah wasilah (sarana), bukan ghayah(tujuan). Ia mengingatkan bahwa kecintaan berlebihan terhadap dunia (hubb al-dunya) merupakan akar berbagai kerusakan moral dan sosial. Karena itu, aktivitas ekonomi harusdiarahkan untuk menopang kehidupan beragama dan kemanusiaan, bukan sekadar penumpukankekayaan.

Lebih sistematis lagi, dalam Al-Mustasfa min Ilm al-Usul, Al-Ghazali merumuskan konsepmaslahah sebagai inti syariat, yakni perlindungan terhadap lima kebutuhan primer manusia (al-daruriyyat al-khams): agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dengan kerangka ini, pertumbuhan ekonomi yang tidak menghadirkan keadilan sosial dipandang gagal secarasubstantif. Maka, praktik ekonomi ideal harus dikawal oleh etika tauhid: qana’ah, moderasikonsumsi, keadilan distributif, serta tanggung jawab sosial.

Zakat, infak, dan sedekah yang masif di bulan Ramadhan juga menunjukkan bahwa distribusikekayaan merupakan bagian integral dari sistem ekonomi Islam. Instrumen-instrumen ini bukansekadar amal individual, melainkan mekanisme sosial untuk mengurangi kesenjangan dan memperkuat solidaritas umat. Jika dikelola secara profesional dan terintegrasi, potensi filantropiIslam dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat, khususnya kelompok rentan.

Di sinilah pentingnya rekonstruksi paradigma ekonomi berbasis tauhid. Rekonstruksi inimenuntut perubahan cara pandang: dari ekonomi yang berorientasi akumulasi menuju ekonomiyang berorientasi kebermanfaatan. Dari persaingan tanpa batas menuju kolaborasi berbasis nilai. Dari eksploitasi menuju keberlanjutan.

Ramadhan memberi peluang besar untuk memulai perubahan tersebut. Namun tantangannyaadalah bagaimana menjaga spirit Ramadhan tetap hidup setelah bulan suci berlalu. Banyak orang kembali pada pola konsumsi lama begitu Idul Fitri usai. Padahal, hakikat Ramadhan adalahmembentuk karakter permanen: sederhana, peduli, dan bertanggung jawab secara sosial.

Dalam konteks pembangunan ekonomi nasional, ekonomi Islam seharusnya tidak hanyadipahami sebagai alternatif teknis berupa bank syariah atau produk halal. Lebih dari itu, ekonomiIslam adalah proyek peradaban. Ia menawarkan visi tentang masyarakat yang seimbang antarapertumbuhan dan pemerataan, antara material dan spiritual.

Perguruan tinggi, lembaga keuangan syariah, dan para intelektual muslim memiliki peranstrategis dalam menghidupkan paradigma ini. Pendidikan ekonomi syariah perlu diarahkan tidakhanya pada penguasaan instrumen, tetapi juga pada internalisasi nilai tauhid dan maqashidsyariah. Tanpa itu, ekonomi syariah berisiko terjebak menjadi sekadar “label” tanpa ruh.

Sebagaimana diingatkan Imam Al-Ghazali, harta hanyalah sarana, bukan tujuan. Jika Ramadhan mampu menanamkan kesadaran ini secara kolektif, maka ia bukan sekadar bulan ibadah, melainkan titik awal kebangkitan peradaban ekonomi. Ekonomi yang tumbuh bersama nilai, kuatbersama empati, dan bergerak menuju keberkahan.

Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi titik balik paradigma ekonomi—ekonomiyang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menghadirkan maslahat dan keberkahanbagi umat.

⇒ Berita Suara Muslim, bisa kunjungi dan follow di ⇒ GOOGLE NEWS

You Might Also Like

Mengenal PAUD dan TK Islam di Malang sebagai Fondasi Pendidikan Anak Usia Dini

Sebanyak 121 Santri Madinatul Qur’an Lulus Hafalan al-Qur’an, 7 Santri Khatam 30 Juz

Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar

Bogor Barat Membutuhkan Keragaman Sarjana

Inilah 7 Program Prioritas Dr. Faisal Eskalasi IAIN Jadi UIN Fattahul Muluk Papua

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article sidang isbat 2026 Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H pada 19 Februari 2026
Next Article Dr.Abdur Rohman Puasa dan Transformasi Distribusi Kekayaan

Sosmed Suara Muslim

FacebookLike
TwitterFollow
InstagramFollow
TiktokFollow
TelegramFollow
Google NewsFollow

Jasa Blogroll

Kami menyediakan Jasa Blogroll yang berisi tautan website di sidebar. Klik Hubungi Kami:

  • Suara Muslim
  • Suara Pesantren
  • Suara Masjid
  • Seputar Halal.
  • Info Kuliner
  • Cara Sehat
  • Destinasi Indonesia
  • Inilah Kita
  • Beasiswa Kampus
  • Indonesia Sentris
  • Promo UKM
  • Warta Regional
  • Surabaya Kota
  • Berita Santai
  • Dunia Pengamanan
  • Info Bekasi
  • Berita Kamera
  • Dunia Kampus
  • Market
  • Bisnis
Ad imageAd image

Latest News

transplantasi rambut
Hukum Transplantasi Rambut menurut Islam: Antara Mengobati Kebotakan dan Mengubah Ciptaan Allah
Kesehatan 08/10/2026
lppom papua
LPPOM Provinsi Papua Tingkatkan Kompetensi SDM dan Ekosistem Halal
Nasional 26/09/2026
mui papua
MUI Pusat akan Selenggarakan Monev 2026 di MUI Provinsi Papua
Nasional 16/09/2026
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman
Nasional 06/09/2026
tk islam malang
Mengenal PAUD dan TK Islam di Malang sebagai Fondasi Pendidikan Anak Usia Dini
Akademia 05/09/2026
pramuka PUI
Kapolri Dukung Pramuka PUI Perkuat Karakter Kebangsaan Generasi Muda
Nasional 04/09/2026
Suara MuslimSuara Muslim
Follow US
©2024 Suara Muslim | Media Islam Inspirasi Keluarga Muslim
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?