Suaramuslim.ID | Pernikahan merupakan ikatan suci yang terpatri antara 2 insan lawan jenis. Dimana, dalam pandangan agama dan sosial merupakan hal yang sakral serta bersejarah. Maka untuk menghadapinya, bukan hanya tentang saling memiliki rasa ketertarikan semata. Hal tersebut merupakan fitrah, maka fitrah pun bisa melenceng ketika tak ada yang membimbing, ketika salah ambil arah, atau ketika tak berpengetahuan tentang seluk beluknya.
Adakalanya, sering kali teori atau ilmu pernikahan yang ditelusuri, belum sinkron dengan yang dilakukan. Karena belum ada bimbingan secara intens, belum adanya kemauan serta tekad untuk mengikis egois, belum ada teladan yang kita yakini sebagai panutan. Maka Ketika kita ingin melangkah ke arah pernikahan. Bukan hanya sekedar ilmu teori yang kita dalami, bukan hanya financial yang kita getolkan, bukan hanya fisik yang terus dipoles, melainkan butuh hati yang tenang dan lapang. Hati yang sudah bisa memaafkan diri sendiri dan orang-orang terdekat. Ketika hati sudah berdamai dengan diri sendiri, maka ilmu dan nasehatpun akan dengan mudah untuk kita aplikasikan di kehidupan nyata.
Terbukti dari para orang shalih terdahulu, yang sudah selesai dengan dirinya sendiri sebelum ke jenjang pernikahan. Hubungan mereka dengan sang pencipta diprioritaskan, bahkan hubungan baik dengan sanak saudaranya pun menjadi acuan, bahwa mereka siap menghadapi bahtera rumah tangga yang penuh tantangan.
Dikisahkan pada masa Khalifah Umar Bin Khattab, beliau dengan pelayannya sedang berpatroli memantau rakyatnya di tengah malam. Saat Khalifah sedang istirahat sejenak, beliau bersender di salah satu rumah rakyatnya dan mendengar suatu percakapan antara seorang ibu penjual susu dengan putrinya. Ketka itu sang ibu menyuruh putrinya untuk mencampurkan air susu yang akan mereka jual dengan air, supaya keuntungan yang didapat pun berlimpah. Namun, jawaban dari putri tersebut membuat Khalifah terenyuh, “Ibu, Amirul Mukminin melarang kita mencampur susu dengan air. Meskipun Amirul Mukminin tidak melihat kita, tapi Tuhan Amirul mukminin melihat kita.”
Keesokan harinya, Khalifah memanggil anak laki-lakinya yang belum menikah; ‘Ashim. Khalifah memerintahkan ‘Ashim untuk mencari tahu tentang putri dari penjual susu tersebut dan melamarnya untuk dijadikan istri. Umar berfirasat, “Aku melihat bahwa ia akan mendatangkan keberkahan untukmu suatu saat nanti. Mudah-mudahan ia melahirkan keturunan yang akan menjadi pemimpin umat!”
Terbuktilah ucapan Umar. ‘Ashim dan istrinya pun dikaruniai seorang putri yang bernama Laila. Tatkala beranjak dewasa, Laila dipersunting oleh Abdul Aziz bin Marwan. Lantas, dari pernikahan keduanya, lahirlah Umar bin Abdul Aziz. Kelak, beliau diangkat sebagai khalifah pada masa Bani Umayyah dan sangat terkenal dengan keadilan dan kebijaksanaannya.
Dari kisah tersebut juga mengajarkan kita untuk tetap mengingatkan orangtua dengan penuh sopan santun tanpa meninggikan suara, jika ada perbuatan mereka yang keliru serta melanggar syariat,
Dikisahkan bahwa Umamah binti Al Harits menyampaikan pesan kepada putrinya Ummu Iyas binti Auf bin Mulhin Asy Syaibani tentang kehidupan rumah tangga. Ia pun berkata, “Wahai putriku, sesungguhnya kamu telah melepaskan diri dari rumahmu, dan dari sana kamu akan keluar serta kamu akan menghabiskan hidupmu menuju rumah suamimu yang belum kamu kenal sebelumnya, dan pendamping hidup serta sahabat yang kamu belum terbiasa dengannya. Oleh karena itu, jadilah kamu sebagai pelayannya, maka dia akan menghamba kepadamu. Jagalah sepuluh hal ini, niscaya hal ini akan menjadi simpanan berharga bagimu. Adapun sepuluh hal tersebut adalah:
Pertama dan kedua, taatilah suamimu dengan sikap menerima, mau mendengar, dan melaksanakan arahannya. Ketiga dan keempat, jagalah bagian tubuh yang biasa menjadi fokus pandangan mata dan penciumannya. Kelima dan keenam, jaga dan perhatikan waktu tidur dan makannya. Karena sesungguhnya rasa lapar yang berlebihan akan berpotensi emosi marah seseorang memuncak, begitupun dengan waktu tidur yang terlambat.
Ketujuh dan kedelapan, jagalah harta dan kehormatan beserta keluarganya. Pandailah membelanjakan harta dan mengatur urusan keluarganya. Kesembilan dan kesepuluh, jangan melawan perintahnya (selama tidak melanggar syariat) dan membuka rahasianya. Kemudian jangan memperlihatkan kesenangan dihadapannya ketika suamimu sedang marah atau berduka, begitupun jangan menunjukkan rasa sedih saat ia sedang gembira.
Seseorang berkata kepada Al Hasan, “ Sesungguhnya aku memiliki seorang putri. Lalu bagaimana pandanganmu jika aku menikahkannya?” Al Hasan menjawab, “Nikahkanlah ia dengan orang yang bertaqwa kepada Allah. Apabila ia mencintainya maka akan memuliakannya, dan jika ia murka kepadanya maka ia tidak akan menganiayanya.” Maka, jadilah dan carilah yang bertaqwa kepada Allah. Dengan itu rumah tangga akan menjadi kokoh serta dipenuhi cahaya keimanan.[inayah]

