SUARAMUSLIM.ID | Kenapa Ngaji Sering Kalah oleh Kasur dan Layar Ponsel? Pernah nggak sih ngerasa kalau mau ngaji itu beratnya bukan main, padahal secara fisik nggak ngapa-ngapain? Nggak ngangkat batu, nggak nyapu halaman, nggak pakai cangkul, apalagi lari keliling lapangan. Tapi anehnya, justru karena ngaji itu hanya tinggal datang, duduk, dan dengar… malah jadi terasa lebih berat dibanding pekerjaan yang bikin keringetan. Kok bisa, ya?
Mari kita bahas satu per satu. Ini bukan soal lelah, tapi soal malas. Bukan malas yang ramai atau kelihatan, tapi malas yang tenang. Ia tak teriak-teriak, tapi hadir dengan lembut. Ia tak menghardik, tapi pelan-pelan menyusup dan membisik:
“Nanti aja ah. Masih ada waktu besok. Sekali nggak ikut, nggak dosa juga kan?”
Dan dari bisikan kecil itu, tumbuh alasan-alasan manis yang membungkus kemalasan. Lalu satu hari absen jadi dua hari. Dua hari jadi seminggu. Lama-lama, agenda ngaji pun raib dari kalender hidup kita. Bukan karena sibuk. Bukan karena nggak ada waktu. Tapi karena kita dikalahkan oleh kasur, oleh layar ponsel, oleh ego yang bilang, “Ah, itu mah aku udah tahu semua.”
Padahal ilmu itu datang bukan kepada yang paling kuat ototnya, atau paling pintar debatnya. Tapi kepada siapa yang mau datang. Ilmu itu turun pada mereka yang sabar mendengarkan, bukan mereka yang merasa sudah kenyang ilmu.
Bukan Lelah, Tapi Langkah Pertama yang Berat
Coba deh ingat-ingat. Apa sih yang paling susah dari ngaji? Duduknya? Dengarnya? Catatannya? Bukan. Yang paling berat itu justru langkah pertama. Langkah keluar dari kamar. Langkah menutup notifikasi. Langkah membuka kitab atau aplikasi kajian. Langkah kecil itu, yang kadang nggak pernah jadi-jadi.
Sekarang, ngaji bisa di mana aja. Mau lewat Zoom, YouTube, IG Live, bahkan podcast. Tapi tetap saja, bukan teknologinya yang jadi masalah. Bukan kuotanya. Tapi kemauan kita buat serius duduk dan menyimak, walau dari layar kecil di tangan. Bahkan, ketika yang dilakukan cuma gerakkan jari buat nyalain pengajian online, itu pun bisa jadi pahala — asalkan niatnya lurus, waktunya fokus, dan hatinya mau belajar.
Malas yang Menyamar Jadi Alasan
Malas itu punya banyak topeng. Kadang menyamar jadi sibuk kerja. Kadang menyamar jadi capek jaga anak. Kadang berubah jadi: “Ngajinya belum cocok sama aku.” Atau: “Kayaknya aku lebih suka belajar sendiri deh.” Padahal aslinya: nggak niat dateng, nggak niat dengerin.
Dan lucunya, kalau ada acara konser, nonton bola, reuni, atau arisan, bisa tuh semangatnya full tank. Hujan, panas, capek, tetap jalan. Tapi giliran kajian? Mendadak semua energi lenyap. Luar biasa memang si malas ini. Tenang, lembut, tapi sangat merusak. Pelan-pelan ia mencuri kesempatan kita buat jadi pribadi yang lebih tahu dan lebih baik.
Jangan Merasa Sudah Tahu
Salah satu jebakan paling licik dari malas adalah kalimat ini:
“Itu mah aku udah tahu.”
Tahu belum tentu paham. Paham belum tentu hafal. Hafal belum tentu mengamalkan. Dan mengamalkan belum tentu istiqamah.
Kalau kita ngaji hanya untuk tahu hal baru, maka kita akan cepat bosan. Tapi kalau kita ngaji untuk menguatkan iman, menjaga hati, menata hidup, maka meskipun materinya diulang-ulang, kita tetap bisa dapat makna baru. Sebab yang berubah itu bukan isi kajiannya, tapi diri kita yang semakin dewasa, semakin lelah hidup, semakin butuh nasihat.
Ilmu Itu untuk yang Mau Berjalan
Doa itu tidak akan naik dari hati yang malas. Sebab yang minta ilmu, harus mau melangkah. Harus mau bergerak. Harus mau membuka diri.
Ilmu tidak akan datang hanya karena kita punya gadget canggih. Ia datang kepada mereka yang menggunakan gadgetnya untuk mencari kebenaran. Ilmu tidak datang pada orang yang pintar, tapi pada orang yang rendah hati dan konsisten menjemputnya.
Malas Itu Musuh Sunyi
Ada orang yang rajin olahraga, tapi malas ngaji. Ada yang kuat begadang kerja, tapi lemas saat kajian. Ada yang tahan duduk nonton drama Korea lima jam, tapi bosan lima menit dengar ustadz bicara. Itu bukan karena lelah. Tapi karena malas yang disimpan lama-lama jadi kebiasaan.
Musuh ini bukan yang menghardik, tapi yang membujuk. Ia tak mengajak langsung menolak, tapi sekadar menunda. Sekali. Dua kali. Lama-lama jadi lupa.
Maka kalau hari ini Anda merasa malas, itu wajar. Semua orang pernah merasakannya. Tapi jangan biarkan malas jadi penguasa. Lawan dengan langkah kecil. Datang walau berat. Duduk walau ngantuk. Dengarkan walau belum paham. Sebab dari situlah cahaya ilmu menyusup perlahan.
Mulai Lagi, Sekarang!
Hari ini, mari ambil satu langkah. Nggak perlu jauh-jauh. Buka YouTube, cari satu kajian pendek. Dengarkan sepuluh menit saja, dengan serius. Lalu ulangi besok. Lama-lama, itu jadi kebiasaan baik.
Atau kalau lebih nyaman ikut kajian offline, pilih jadwal terdekat. Niatkan dari malam. Pasang alarm. Siapkan baju dari pagi. Anggap ini seperti janji penting yang tak boleh ditunda. Karena memang begitu adanya. Janji dengan ilmu adalah janji untuk memperbaiki diri.
Dan saat nanti rasa malas datang lagi, katakan dalam hati:
“Aku bukan orang paling kuat, tapi aku mau datang.”
“Aku bukan yang paling tahu, tapi aku mau belajar.”
“Aku belum sempurna, tapi aku mau berubah.”
Sebab yang membuat hidup kita bercahaya bukan seberapa banyak yang kita hafal, tapi seberapa sungguh kita mau menjemput cahaya itu.
Penutup: Jangan Biarkan Malas Menang
Ngaji itu bukan sekadar aktivitas mingguan. Ia adalah napas hidup ruhani. Ketika malas datang, itu tanda bahwa hati butuh diisi kembali. Jangan tunggu semangat datang dulu, baru bergerak. Bergeraklah dulu, nanti semangat menyusul. Seperti kata pepatah Arab:
“Ilmu itu tidak memberi sebagian dirinya sebelum engkau memberinya seluruh dirimu.”
Maka mari mulai hari ini. Tinggalkan bisikan malas, singkirkan alasan. Ambil satu langkah kecil: datang, duduk, dengar.
Ilmu tidak diberikan pada yang kuat, tapi pada yang datang.[]

