Suaramuslim.id | Jayapura – Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Fattahul Muluk Papua terus memperkuat budaya akademik bertaraf internasional dengan menghadirkan ulama, cendekiawan, dan akademisi dari berbagai negara dalam forum kuliah umum dan kuliah tamu. Program yang diinisiasi Direktur Program Pascasarjana IAIN Fattahul Muluk Papua, Dr. H. Faisal, M.HI., tersebut menjadi salah satu strategi kampus dalam memperkaya perspektif keilmuan mahasiswa sekaligus membangun jejaring akademik global.
Komitmen tersebut kembali terlihat saat Program Pascasarjana menghadirkan ulama Al-Azhar Mesir sekaligus mantan Wakil Menteri Wakaf Mesir, Syeikh Dr. As-Said Muhammad Ali Al-Azhari, dalam kuliah umum bertema “Tradisi Keilmuan Islam Klasik dan Tantangannya di Era Globalisasi” di Aula Terpadu IAIN Fattahul Muluk Papua, Rabu (22/4/2026).
Dalam paparannya, Dr. As-Said menegaskan bahwa derasnya arus globalisasi tidak akan menghilangkan tradisi keilmuan Islam selama warisan intelektual Islam (turats) terus dijaga oleh para ulama dan generasi penerus.
“Globalisasi tidak akan mematikan tradisi keilmuan Islam selama ada para ulama yang benar-benar pakar di bidangnya yang terus mensyiarkan turats warisan tradisi Islam ini. Insya Allah, Allah akan menjaga keilmuan Islam melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah,” ujarnya melalui penerjemah Dr. (Cand) Murtadho Bisri.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi dunia Islam kini semakin kompleks, mulai dari persoalan ekonomi, sosial, budaya hingga perkembangan teknologi. Karena itu, pengembangan ilmu pengetahuan harus tetap berpijak pada prinsip-prinsip dasar Islam dan tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama.
Menjadi Agenda Strategis Pascasarjana
Kehadiran Syeikh Dr. As-Said melengkapi rangkaian kuliah internasional yang secara rutin diselenggarakan Program Pascasarjana IAIN Fattahul Muluk Papua.
Sebelumnya, pada Maret 2026, Program Pascasarjana menggelar Guest Lecture bertema “Religiosity and The Development of A Peaceful Mindset” dengan menghadirkan akademisi dari Umeå University, Swedia, Prof. Dr. Tomas Lindgren.
Dalam kuliah tersebut, Prof. Tomas memaparkan hasil penelitiannya mengenai hubungan religiositas dan pembangunan masyarakat damai. Ia menyoroti konflik yang pernah terjadi di Maluku pada 1999–2002 dan menyampaikan bahwa berdasarkan hasil penelitiannya, konflik tersebut tidak dapat disederhanakan sebagai konflik agama.
Menurutnya, tradisi keagamaan justru menyimpan nilai-nilai yang kuat untuk membangun rekonsiliasi, memulihkan hubungan antarkelompok, serta menumbuhkan cara pandang yang damai dalam kehidupan masyarakat. Ia menekankan bahwa kedamaian akan tumbuh ketika keyakinan moral seseorang tidak lagi mendorong tindakan yang merugikan atau menghancurkan pihak lain.
Sementara itu, pada Juli 2024, Program Pascasarjana juga menghadirkan Direktur Markaz Al-Azhar Mesir, Syekh Prof. Dr. Nuruddin Al Sayyed Ma’ruf, dalam kuliah tamu bertema “Moderasi Islam: Pengalaman Mesir dan Harapan pada Dunia Islam”.
Dalam kesempatan tersebut, Syekh Nuruddin menjelaskan bahwa moderasi harus dimulai dari diri sendiri sebelum diwujudkan dalam hubungan dengan keluarga, sesama muslim, maupun masyarakat lintas agama. Menurutnya, sikap moderat merupakan teladan Rasulullah SAW yang relevan diterapkan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.
Membuka Akses Papua terhadap Wacana Keilmuan Dunia
Direktur Program Pascasarjana IAIN Fattahul Muluk Papua, Dr. H. Faisal, M.HI., mengatakan bahwa menghadirkan narasumber internasional merupakan bagian dari visi Pascasarjana untuk menjadikan Papua sebagai bagian dari percakapan akademik dunia.
Ia menjelaskan bahwa setiap kuliah tamu dirancang tidak hanya sebagai forum berbagi pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang dialog lintas disiplin yang memperkuat kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
“Program kuliah umum dan guest lecture internasional merupakan salah satu strategi kami untuk meningkatkan kualitas akademik Pascasarjana. Kami ingin mahasiswa Papua memperoleh kesempatan belajar langsung dari ulama dan akademisi dunia sehingga memiliki wawasan yang lebih luas, kemampuan berpikir kritis, serta memahami berbagai perspektif dalam studi keislaman, perdamaian, dan perkembangan peradaban global,” ujar Faisal.
Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan forum ilmiah internasional juga bertujuan membangun budaya akademik yang terbuka terhadap dialog dan kolaborasi.
“Melalui dialog lintas disiplin dan lintas negara, kami ingin memperkuat kualitas riset, memperluas jejaring internasional, serta mempersiapkan lulusan yang mampu berkontribusi dalam penyelesaian persoalan masyarakat, baik di Papua, Indonesia, maupun pada tingkat global. Karena itu, menghadirkan tokoh-tokoh dunia akan terus menjadi program prioritas Pascasarjana IAIN Fattahul Muluk Papua,” katanya.
Pada Guest Lecture Maret 2026, Faisal juga menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari penguatan kualitas akademik melalui program ilmiah internasional.
“This guest lecture aims to enrich the academic perspectives of our postgraduate students and faculty members in the field of religious studies, philosophy, and peacebuilding.”
Menurutnya, forum tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis mahasiswa melalui dialog interdisipliner mengenai hubungan antara religiositas dan harmoni sosial.
Dukungan Penuh Pimpinan Kampus
Rektor IAIN Fattahul Muluk Papua, Dr. H. Marwan Sileuw, S.Ag., M.Pd., menyambut positif konsistensi Program Pascasarjana dalam menghadirkan tokoh-tokoh internasional.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi sekaligus memperluas wawasan sivitas akademika.
“Kegiatan ini bisa menjadi awal untuk menjalin hubungan yang lebih luas antara Indonesia dan Mesir, khususnya terkait pendidikan di Papua,” imbuhnya. Kehadiran Syekh Nuruddin, lanjutnya, menjadi catatan sejarah baru bagi keluarga IAIN Fattahul Muluk Papua. “Prestasi dan ketinggian ilmu beliau akan bermanfaat bagi kampus kita yang masih banyak belajar dan berkembang,” pungkasnya.
Melalui berbagai kuliah umum dan guest lecture internasional yang telah diselenggarakan, Program Pascasarjana IAIN Fattahul Muluk Papua menunjukkan komitmennya membangun ekosistem akademik yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan global, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Langkah ini diharapkan mampu melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, berwawasan internasional, serta siap memberikan kontribusi bagi pengembangan masyarakat dan peradaban.[]

