Suaramuslim.id | Dalam dunia modern saat ini, seringkali menawarkan narasi yang menyesatkan bagi para pemuda. Dia balik hingar-bingar tren, media sosial, dan pergaulan bebas, terselip sebuah kata pembenaran yang seolah menjadi pemakluman kolektif: “Nikmati saja dulu, mumpung masih muda.” Atau kalimat sejenis yang lebih halus namun mematikan, “Ah, wajar kalau anak muda nakal sedikit, nanti kalau sudah tua baru bertaubat.” Mentalitas ini memandang masa muda sebagai “zona bebas hukum” di mana maksiat dianggap sebagai bagian dari proses pencarian jati diri (eksperimen moral). Namun, di balik argumen tersebut, ada sebuah kesombongan besar yang sering kita lupakan yaitu asumsi bahwa kita pasti akan hidup sampai ke usia tua.
Banyak pemuda sering menunda taubat bahkan menunda fi’lu taat (melakukan ketaatan) karena merasa memiliki tabungan waktu yang sangat banyak. Mereka melihat usia akhir manusia rata-rata di angka 60-70 tahun, lalu menghitung sisa waktu hidup mereka yang masih puluhan tahun lagi. Maksiat pun dilakukan dengan santai, seolah-olah jadwal kematian sudah tercatat di kalender dinding kamar mereka. Padahal, jika kita menilik realita, kematian tidak pernah mengenal syarat “harus tua”. Kuburan tidak hanya diisi oleh orang berambut putih dan kulit keriput. Di sana ada anak-anak bahkan bayi, remaja, dan pemuda yang sedang di puncak kekuatan mereka. Argumen “umumnya anak muda” hanyalah sebuah delusi kolektif untuk menenangkan nurani yang mulai berontak saat melakukan dosa.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin sudah membedah akar masalah ini. Beliau menjelaskan bahwa syahwat di masa muda sering kali membutakan akal dari memandang urgensi waktu. Beliau menyatakan:
إن أكثر صياح أهل النار من التسويف فما هلك من هلك إلا بالتسويف فيكون تسويده القلب نقدًا وجلاؤه بالطاعة نسيئة إلى أن يختطفه الموت
Artinya: “Sesungguhnya kebanyakan penyesalan penghuni neraka adalah karena penundaan (taswif). Maka seseorang tidaklah celaka kecuali karena menunda-nunda. Maka saat itu juga hatinya gelap (karena maksiat), sedangkan pembersihannya dengan ketaatan dilakukan secara tempo (nanti-nanti), hingga akhirnya kematian merenggutnya secara tiba-tiba.”
Dalam kitab Ayyuhal Walad, Imam Al-Ghazali memberikan nasihat yang menusuk jantung bagi para pemuda yang suka menunda-nunda amal saleh:
أَيُّهَا الْوَلَدُ، كَمْ مِنْ لَيَالٍ أَحْيَيْتَهَا بِتِكْرَارِ الْعِلْمِ وَمُطَالَعَةِ الْكُتُبِ وَحَرَمْتَ عَلٰى نَفْسِكَ النَّوْمَ لَا أَعْلَمُ مَا الْبَاعِثُ فِيْهِ، إِنْ كَانَ نَيْلَ عَرَضِ الدُّنْيَا وَجَذْبَ حُطَامِهَا وَتَحْصِيْلَ مَنَاصِبِهَا وَالْمُبَاهَاةِ عَلَى الْأَقْرَانِ وَالْأَمْثَالِ فَوَيْلٌ لَكَ ثُمَّ وَيْلٌ لَكَ
Artinya: Wahai anakku, banyak sekali malam-malam yang mana kamu menghidupkannya dengan mengulang-ulang ilmu, mengkaji kitab-kitab, dan kamu mengharamkan dirimu untuk tidur, aku tak mengerti apa yang mendorongnya. Jika demikian itu untuk memperoleh harta benda dunia, menarik remukannya, menghasilkan kedudukannya dan kesombongan pada teman-teman sepadan dan sesama, maka celaka kamu kemudian celaka kamu. Nasihat ini menegaskan bahwa bahkan dalam menuntut ilmu pun, jika tujuannya salah, itu adalah kerugian. Apalagi jika masa muda dihabiskan untuk maksiat dengan alasan “mencari pengalaman”. Imam Al-Ghazali dalam kitab ini juga mengingatkan dengan tegas bahwa:
أَيُّهَا الْوَلَدُ، اجْعَلِ الْهِمَّةَ فِى الرُّوْحِ وَالْهَزِيْمَةَ فِى النَّفْسِ وَالْمَوْتَ فِى الْبَدَنِ لِأَنَّ مَنْزِلَكَ الْقَبْرُ وَأَهْلُ الْمَقَابِرِ يَنْتَظِرُوْنَكَ فِيْ كُلِّ لَحْظَةٍ مَتٰى تَصِلُ إِلَيْهِمْ، إِيَّاكَ إِيَّاكَ أَنْ تَصِلَ إِلَيْهِمْ بِلَا زَادٍ
Artinya: Wahai anakku, jadikanlah himmah (keinginan) di dalam ruh (jiwa), kekalahan di dalam nafsu, dan kematian di dalam badanmu, karena sesungguhnya tempatmu adalah kubur dan para penghuni kuburan sedang menantimu di setiap saat kapan kamu akan sampai (menyusul) pada mereka. Takutlah kamu takutlah kamu, jika kamu sampai pada mereka tanpa bekal.
Mari kita bedah secara logika. Jika seseorang berkata, “Aku akan bertaubat besok,” dia sebenarnya sedang mengklaim dua hal yang ia sendiri tidak miliki otoritasnya:
- Kepemilikan atas hari esok berfikirlah siapa yang menjamin jantungmu masih berdetak esok pagi?
- Hidayah yang instan berfikirlah siapa yang menjamin saat esok tiba, hatimu masih tergerak untuk bertaubat?
Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali memberikan perumpamaan yang tegas tentang orang yang menunda taubat.
مثال المسوف إلا مثاله من احتاج إلى قلع شجرة فرآها قوية لا تنقلع إلا بمشقة شديدة فقال أؤخرها سنة ثم أعود إليها وهو يعلم أن الشجرة كلما بقيت ازداد رسوخها وهو كلما طال عمره ازداد ضعفه فلا حماقة في الدنيا أعظم من حماقته إذ عجز مع قوته عن مقاومة ضعيف فأخذ ينتظر الغلبة عليه إذا ضعف هو في نفسه وقوي الضعيف
Artinya: “Perumpamaan orang yang menunda-nunda itu melainkan seperti seseorang yang perlu mencabut sebuah pohon, lalu ia melihat pohon itu begitu kuat dan tidak bisa tumbang kecuali dengan usaha yang keras. Maka ia pun berkata: ‘Aku tunda dulu setahun, kemudian aku akan kembali lagi (untuk mencabutnya).’ Padahal ia tahu, bahwa pohon itu setiap kali dibiarkan akan semakin kokoh akarnya, sedangkan dirinya, setiap kali umurnya bertambah, ia akan semakin lemah.”
Perlu kalian ketahui bahwa kematian itu datang secara tiba-tiba (Baghtatan). Tidak ada pemberitahuan lewat notifikasi ponsel atau surat resmi. Ketika malaikat maut datang, ia tidak akan peduli apakah kamu sedang berpesta di klub malam atau sedang bersujud. Ia tidak akan menunggu kamu menyelesaikan “masa muda” yang penuh maksiat itu.
Islam memandang masa muda bukan sebagai waktu untuk berhura-hura, melainkan masa pertanggungjawaban yang berat. Dari Ibnu Mas’ud RA bahwa Rasūlullāh SAW bersabda:
لا تزول قدما ابن أدم يوم القيامة من عند ربه حتى يسأل عن خمس: عن عمره فيما أفناه ؟ وعن شبابه فيما أبلاه ؟ وماله من أين اكتسبه؟ وفيما أنفقه؟ وماذا عمل فيما عمل
Artinya:“Tidaklah beranjak pijakan kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya sampai ia ditanya tentang lima hal: tentang usianya, untuk apa dihabiskan, tentang usia mudanya, untuk apa ia gunakan, tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, serta tentang apa yang ia amalkan dengan ilmunya.” (HR. Tirmidzi). Masa muda memang masa di mana syahwat sedang memuncak. Maka dari itu, seorang pemuda yang mampu menahan diri dari maksiat memiliki kedudukan yang sangat mulia. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat, salah satunya adalah:
وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ
“Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah.” Ini adalah bantahan yang tidak bisa di bantah lagi bagi narasi “umumnya anak muda (maksiat)”. Allah tidak memberikan pengecualian bagi anak muda untuk bermaksiat. Sebaliknya, Allah memberikan penghargaan tertinggi bagi mereka yang mampu melawan arus trend negatif demi ketaatan. Bagi pemuda yang hobi bermaksiat dengan dalih “mumpung muda”, mereka sebenarnya sedang membunuh keadaan mereka sendiri sebelum jasad mereka terkapar. Mereka memutus koneksi dengan Tuhan demi kesenangan sementara yang durasinya mungkin tidak sampai satu jam, namun jika terlewat penyesalannya bisa abadi.
Ketahuilah wahai anak muda pemganut trend tiktok, jangan biarkan setan menipumu dengan kalimat “santai saja masih muda”. Dunia ini adalah ladang, dan masa muda adalah musim tanam yang paling subur. Jika yang kau tanam hari ini adalah benih-benih maksiat, jangan harap kau akan memanen kedamaian di masa tua, atau lebih buruk lagi, jangan harap kau punya kesempatan untuk melihat masa tua itu sendiri. Ingatlah perkataan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’nya:
يا نفس أما تستحيين تزينين ظاهرك للخلق وتبارزين الله في السر بالعظائم
Artinya: “Wahai jiwaku, apa kau tak malu? Kau menghiasi eksternalmu di depan manusia, namun engkau menantang Allah dalam kesunyian dengan dosa-dosa besar!”
Janganlah jadikan “umumnya anak muda” sebagai standar moralmu. Jadikanlah kematian yang “pasti datang” sebagai pengingat hidupmu. Sebab, satu-satunya hal yang pasti dalam hidup ini adalah kematian, dan satu-satunya hal yang tidak pasti adalah kapan malaikat maut menjemputmu. Bertaubatlah hari ini, jam ini, detik ini. Karena bisa jadi, nafas yang baru saja kau hirup adalah nafas terakhir yang Allah pinjamkan kepadamu. Jangan sampai kalimat terakhir yang kau ucapkan adalah penyesalan, di saat pintu taubat telah tertutup rapat oleh dinginnya liang lahat. Jadilah pemuda yang dicintai Allah karena ketaatannya, bukan yang dimaklumi manusia karena kenakalannya.

