Suara Muslim | Di tengah masyarakat Muslim masih berkembang anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan yang membawa kesialan, musibah, atau berbagai pertanda buruk. Tidak sedikit orang yang menghindari menikah, memulai usaha, pindah rumah, hingga bepergian jauh karena khawatir akan mengalami kegagalan atau malapetaka pada bulan ini.
Padahal, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Justru Rasulullah SAW secara tegas meluruskan anggapan tersebut dan mengajarkan bahwa setiap waktu adalah ciptaan Allah yang tidak memiliki kekuatan membawa manfaat maupun mudarat tanpa izin-Nya.
Dr. KH A Bahrul Hikam, M.Ed., Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Tangerang dalam tulisan Khutbah Jumat menjelaskan bahwa mitos mengenai kesialan bulan Safar merupakan warisan kepercayaan masyarakat Arab Jahiliyah yang seharusnya tidak lagi dipercaya oleh umat Islam.
Dalam Islam, mempercayai adanya waktu tertentu yang membawa kesialan dikenal dengan istilah tathayyur, yaitu merasa sial karena waktu, tempat, atau tanda-tanda tertentu.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya, tidak ada kesialan, tidak ada anggapan sial dengan burung hantu, tidak ada anggapan sial bulan Safar, dan menjauhlah dari orang yang terkena penyakit kusta sebagaimana kamu menjauh dari singa.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi landasan kuat bahwa bulan Safar sama seperti bulan-bulan lainnya dalam kalender Hijriah. Tidak ada satu pun dalil yang menyebutkan bahwa Allah menjadikan Safar sebagai bulan turunnya bala atau bulan penuh kesialan.
Karena itu, seorang Muslim tidak perlu takut menikah, membuka usaha, melakukan perjalanan, atau memulai berbagai aktivitas penting pada bulan Safar. Selama semua dilakukan dengan ikhtiar yang baik dan bertawakal kepada Allah, tidak ada alasan syar’i untuk menundanya hanya karena mitos.
Jika menelusuri sejarah Islam, justru banyak peristiwa penting terjadi pada bulan Safar.
Di antaranya adalah pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah, pernikahan Sayyidah Fatimah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, hingga dimulainya perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW. Selain itu, beberapa ekspedisi dan peperangan pada masa Rasulullah juga berlangsung pada bulan Safar.
Fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah tidak pernah memperlakukan Safar sebagai bulan yang harus dihindari.
Mengapa Muncul Mitos Bulan Safar?
Dalam tafsirnya terhadap Surah At-Taubah ayat 36, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa nama “Safar” berasal dari kata shafara yang berarti kosong.
Beliau menerangkan bahwa masyarakat Arab dahulu sering meninggalkan rumah-rumah mereka pada bulan Safar untuk berdagang, bepergian, atau berperang. Akibatnya, perkampungan menjadi sepi.
Selain itu, pada masa Jahiliyah sering terjadi peperangan setelah berakhirnya bulan-bulan haram. Banyak harta yang dijarah dan korban berjatuhan. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan anggapan bahwa Safar adalah bulan penuh petaka.
Islam kemudian datang untuk menghapus keyakinan tersebut. Sebab, baik dan buruk bukan ditentukan oleh nama bulan, melainkan oleh ketetapan Allah SWT.
Islam mengajarkan bahwa tidak ada hari, bulan, maupun tahun yang membawa kesialan dengan sendirinya. Waktu hanyalah makhluk ciptaan Allah yang sepenuhnya berada dalam kekuasaan-Nya.
Seorang Muslim wajib meyakini bahwa segala manfaat maupun musibah hanya terjadi atas izin Allah SWT.
Safar hanyalah bulan kedua dalam kalender Hijriah, sebagaimana Muharram, Rabiul Awal, dan bulan-bulan lainnya. Tidak ada alasan untuk mengaitkannya dengan nasib buruk.
Pesan Surah Al-‘Ashr: Kerugian Terbesar adalah Menyia-nyiakan Waktu
Alih-alih sibuk mempercayai mitos bulan sial, Islam justru mengingatkan manusia agar tidak menyia-nyiakan waktu.
Allah SWT berfirman: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)
Imam Asy-Syafi’i bahkan pernah mengatakan: “Andai manusia mau merenungkan surah Al-‘Ashr ini, maka itu sudah mencukupi mereka.”
Pesan surah ini sangat mendalam. Kerugian manusia bukan semata kehilangan harta atau jabatan, melainkan kehilangan waktu yang tidak digunakan untuk meningkatkan iman, memperbanyak amal saleh, menyampaikan kebenaran, dan bersabar dalam menjalani kehidupan.
Waktu Akan Dipertanggungjawabkan di Hadapan Allah
Islam memandang waktu sebagai amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya apa yang telah diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang masa mudanya untuk apa digunakan.” (HR Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa umur bukan sekadar angka. Setiap hari, bahkan setiap detik yang dilalui manusia akan menjadi bagian dari hisab di akhirat.
Karena itu, setiap waktu yang Allah berikan semestinya dimanfaatkan untuk hal-hal yang bernilai ibadah dan memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dua Nikmat yang Sering Disia-siakan
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa banyak manusia justru merugi karena tidak mampu memanfaatkan dua nikmat besar.
Beliau bersabda: “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari)
Kata maghbun dalam hadis ini menggambarkan seseorang yang mengalami kerugian dalam transaksi. Seolah-olah setiap manusia sedang berdagang dengan Allah, dan modal utamanya bukanlah harta, melainkan usia serta waktu.
Sayangnya, banyak orang baru menyadari berharganya waktu ketika kesehatan mulai menurun atau kesempatan telah berlalu.
Tantangan Mengelola Waktu di Era Digital
Di era teknologi saat ini, tantangan terbesar bukan lagi kekurangan waktu, melainkan banyaknya gangguan yang menghabiskan waktu tanpa disadari.
Berjam-jam dapat habis untuk menggulir media sosial, menonton konten tanpa tujuan, berdebat di dunia maya, atau membicarakan kehidupan orang lain. Sementara membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, memperbanyak zikir, maupun melaksanakan salat berjamaah sering kali ditunda dengan alasan tidak sempat.
Padahal, persoalannya bukan karena waktu tidak tersedia, melainkan karena manusia sering salah menentukan prioritas.
Dunia Hanyalah Tempat Singgah
Rasulullah SAW memberikan gambaran sederhana namun sangat menyentuh tentang kehidupan dunia.
Beliau bersabda: “Apa urusanku dengan dunia. Aku di dunia ini tidak lain seperti seorang penunggang kendaraan yang berteduh di bawah sebuah pohon, lalu pergi meninggalkannya.” (HR Tirmidzi)
Perumpamaan ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Seorang musafir tentu tidak akan terlalu sibuk memperindah tempat singgahnya, melainkan lebih fokus mempersiapkan bekal menuju tujuan akhir.
Demikian pula seorang Muslim seharusnya memanfaatkan setiap kesempatan hidup untuk memperbanyak amal kebajikan sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
Mengisi Bulan Safar dengan Amal Saleh
Daripada mempercayai mitos yang tidak memiliki dasar syariat, bulan Safar sebaiknya dijadikan momentum memperbaiki kualitas ibadah dan mengelola waktu dengan lebih baik.
Setiap hari yang Allah berikan adalah kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat hubungan dengan Allah, memperbaiki akhlak, serta memberikan manfaat kepada sesama.
Pada akhirnya, bukan bulan Safar yang menentukan nasib seseorang, melainkan bagaimana ia memanfaatkan waktu yang Allah amanahkan kepadanya. Sebab, setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali, dan seluruhnya akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

