Suaramuslim.ID | Seorang teman bertanya, “Sadar enggak sih? Masjid-masjid kita itu sepi banget, terutama saat salat lima waktu. Padahal, coba hitung, ada berapa ratus ribu masjid di Indonesia ini? Semua megah-megah, tapi kok isinya kosong melompong?”
Saya termenung sejenak, lalu menjawab, “Iya, aneh juga ya. Kita ini kan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Tapi kenapa banyak umatnya yang ‘enggan’ ke masjid? Setiap azan berkumandang, rasanya mereka malah menghilang. Kira-kira, mereka lagi pada ke mana ya?”
“Nah, itu dia masalahnya,” timpalnya lagi. “Padahal, kalau dipikir-pikir, apa sih yang salah? Kok rasanya orang Islam zaman sekarang itu enggak betah di masjid? Menurutmu, apa yang harus dilakukan pengurus masjid atau Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) biar orang-orang itu mau datang, bahkan betah berlama-lama di masjid?”
Masjid, menurut saya, adalah “rumah” sejati bagi umat Islam, bukan hanya tempat bersujud. Ia seharusnya menjadi pusat spiritual dan sosial, tempat di mana kita bisa mempererat ikatan, berbagi ilmu, dan mencari solusi bersama. Sayangnya, banyak dari kita yang hanya melihatnya sebagai ruang ibadah ritual, melupakan perannya sebagai penghubung antara manusia dengan Tuhan dan juga antara sesama manusia.
Lebih dari itu, masjid seharusnya menjadi pilar peradaban yang memberdayakan. Ia adalah ruang untuk belajar dan tumbuh. Berbagai program seperti TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), majelis taklim, hingga layanan sosial menunjukkan bahwa masjid bisa menjadi pusat kebaikan. Di sanalah nilai-nilai Islam, seperti kepedulian dan gotong royong, tidak hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan.
Kita harus mengubah cara pandang. Masjid tidak boleh menjadi bangunan megah yang sepi, melainkan harus hidup, dinamis, dan relevan dengan zaman. Masjid yang aktif adalah cerminan komunitas yang kuat. Di sanalah iman, ilmu, dan amal harus berpadu untuk membangun peradaban yang lebih baik.
Krisis Jemaah
Coba kita renungkan, pernahkah melihat masjid yang megah tapi isinya sepi saat waktu salat tiba? Ini fenomena yang bikin kita bertanya-tanya, kan? Padahal, Indonesia punya jutaan umat Muslim dan ratusan ribu masjid. Kenapa ya, banyak dari kita yang lebih memilih salat sendirian daripada berjemaah? Jawabannya, menurut saya, bukan hanya soal iman, tapi juga soal gaya hidup yang berubah.
Salah satu alasannya jelas, kita terlalu sibuk. Jadwal kerja yang padat dan tuntutan karier seringkali membuat kita sulit menyesuaikan waktu salat dengan kegiatan. Alhasil, kita salat di mana saja kita berada, dan berjemaah di masjid jadi hal yang sering terlupakan.
Lalu, bagaimana dengan faktor lokasi? Mungkin kita sendiri pernah mengalaminya. Masjid terlalu jauh dari kantor atau rumah, transportasi susah, atau tidak ada tempat parkir yang aman. Akhirnya, kita berpikir, “Ah, salat di rumah saja lebih gampang.” Padahal, seharusnya itu tidak menjadi alasan, kan?
Lingkungan sosial juga sangat berpengaruh. Kalau teman-teman atau orang di sekitar kita tidak terbiasa salat berjemaah, dorongan untuk melakukannya jadi berkurang. Kita cenderung ikut-ikutan. Rasanya jadi “aneh” kalau hanya kita yang rutin ke masjid, dan akhirnya kita memilih untuk mengikuti arus.
Ada juga pemahaman yang keliru. Sebagian dari kita berpikir, salat adalah urusan pribadi dengan Tuhan, jadi tidak perlu ke masjid. Padahal, semangat berjemaah itulah yang seharusnya memperkuat tali silaturahim dan kebersamaan kita sebagai umat.
Bagaimana dengan masjidnya sendiri? Mungkin ini juga jadi masalah. Banyak masjid yang hanya fokus pada salat saja, tanpa ada kegiatan lain yang menarik. Generasi muda merasa masjid tidak relevan dan akhirnya enggan datang karena tidak ada program yang bisa menarik mereka.
Terakhir, fasilitas. Hal sepele seperti masjid yang kurang terawat, tidak ada AC, toilet kotor, atau tempat wudu yang tidak nyaman, bisa membuat kita malas. Bayangkan saja, hal-hal kecil ini ternyata bisa sangat memengaruhi keinginan kita untuk datang dan kembali lagi ke masjid.
Strategi Ramaikan Masjid
Mengurus masjid itu seperti mengelola rumah besar bagi banyak orang. Tantangannya bukan hanya membuat mereka datang, tapi juga betah. Kita harus bisa membuat masjid terasa seperti rumah kedua yang hangat dan nyaman. Berikut beberapa ide yang bisa DKM coba:
1. Beresin dan bersihin masjid.
Siapa yang mau ke tempat yang kotor dan bau? Pastikan masjid selalu sejuk, wangi, dan rapi. Cek karpet, toilet, dan tempat wudu secara rutin. Fasilitas kecil, seperti air AC yang dingin dan lampu yang terang bisa membuat orang merasa lebih nyaman dan ingin kembali.
2. Buat program yang seru dan beda.
Jangan cuma fokus pada salat saja. Coba adakan kajian dengan topik yang menarik, misalnya soal manajemen keuangan syariah atau parenting islami. Undang penceramah yang gaya penyampaiannya asyik dan relevan, terutama buat anak muda.
3. Jadikan masjid pusat kegiatan sosial.
Ajak jemaah untuk bergotong-royong. Misalnya, adakan program santunan anak yatim, bazar sembako murah, atau donor darah. Kalau masjid menjadi tempat untuk saling membantu, ikatan antarjemaah akan semakin kuat.
4. Ajak anak muda bergabung.
Mereka adalah masa depan masjid. Buat program khusus buat mereka, seperti klub futsal, kelas desain grafis, atau diskusi santai tentang isu terkini. Dengan begitu, masjid akan terasa “gaul” dan bukan hanya tempat untuk orang tua.
5. Gunakan teknologi biar lebih dekat.
Manfaatkan media sosial. Buat akun media sosial masjid untuk berbagi jadwal salat, info kajian, atau quotes Islami. Juga, bisa siarkan langsung khutbah Jumat supaya yang tidak bisa datang tetap bisa mendengarkan.
6. Tingkatkan pelayanan DKM.
Para pengurus harus ramah, senyum, dan mudah diajak ngobrol. Kalau ada jemaah baru, sapa mereka. Kalau ada masukan, dengarkan. Ketika jemaah merasa dihargai dan diterima, mereka akan merasa memiliki masjid itu.
Akhirnya, selain membangun bangunan, mari kita bangun hubungan. Saat hati jemaah sudah terpaut dengan masjid, mereka akan datang sendiri, bukan karena terpaksa. Buatlah masjid terasa seperti rumah yang nyaman, tempat mereka menemukan ketenangan dan keluarga. Kalau sudah begitu, masjid akan hidup, dan peradaban akan kembali tumbuh dari sana. Semoga!

