Suaramuslim.ID | Di zaman sekarang, keuangan syariah menjadi pilihan penting di tengah kebutuhan ekonomi yang kompleks. Namun, tanpa pemahaman yang baik, potensi ini belum sepenuhnya terwujud. Memahami dan memanfaatkan produk keuangan berdasarkan prinsip syariah dikenal sebagai literasi keuangan syariah merupakan elemen penting untuk mendorong inklusi, ketahanan finansial, dan perubahan ekonomi yang adil.
1. Situasi Saat Ini Rendahnya Literasi dan Inklusi
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2024, level literasi keuangan syariah di Indonesia tercatat 39,11 %, sementara inklusi hanya 12,88 %.
Sebagai perbandingan, literasi keuangan umum adalah 65,43 % dan inklusi keuangan 75,02 %.
Data sebelumnya menunjukkan adanya peningkatan dari tingkat literasi syariah yang hanya 9,14 % di tahun 2022. Meski begitu, perbedaan antara literasi syariah dan literasi umum masih cukup besar, yang menunjukkan perlunya peningkatan pendidikan khusus. Selain itu, kelompok pelajar berusia 15-17 tahun menunjukkan tingkat literasi syariah terendah, yakni hanya 25,54 %.
2. Upaya dan Inisiatif untuk Meningkatkan Literasi:
- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) aktif melalui berbagai program literasi
- GERAK Syariah 2024: Kampanye nasional selama Ramadan yang melibatkan OJK, BI, KNEKS, media, influencer, dan pemuka agama untuk memperkuat literasi serta inklusi keuangan syariah.
- Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO) 2024: Kompetisi keuangan syariah untuk siswa dan mahasiswa yang diadakan oleh OJK guna menciptakan generasi muda yang memahami keuangan syariah.
Program SICANTIKS (Sahabat Ibu Cakap Literasi Keuangan Syariah): Pelatihan “training of trainers” untuk perempuan perencana keuangan yang menjadi duta literasi syariah, dengan tujuan untuk menciptakan efek ganda dalam edukasi bagi masyarakat luas.
3. Target Ambisius untuk Masa Depan
Bank Indonesia (BI) memiliki keyakinan bahwa pada tahun 2025, literasi dan inklusi ekonomi syariah di Indonesia dapat mencapai 50 %, dengan dukungan dari pengembangan pasar dan kolaborasi berbagai pihak melalui festival syariah, pelatihan pendapat pemimpin, serta kampanye digital menggunakan influencer dan media massa.
4. Peran Pemangku Kepentingan dan Inovasi Edukasi di Lapangan
Allianz Syariah berinovasi dengan memperkenalkan permainan papan edukatif (“Allianz Smart Plan Board Game”) untuk membantu siswa SMA di Jawa Barat memahami literasi keuangan syariah pada Ramadan 2025. Metode interaktif ini mencakup pengelolaan zakat, sedekah, pemodelan risiko, dan pinjaman yang aman.
5. Tantangan yang Perlu Diatasi
➢ Beberapa tantangan utama termasuk:
- Ketidakmerataan geografis dan akses, terutama di daerah pedesaan serta di bagian tengah dan timur Indonesia, di mana pengetahuan tentang keuangan syariah masih sangat rendah.
- Kekurangan pengetahuan, terutama di kalangan generasi muda dan pelajar yang memiliki tingkat literasi paling rendah.
- Rendahnya tingkat inklusi, meski literasi mulai meningkat yang menunjukkan bahwa pemahaman belum bertransisi menjadi penggunaan nyata dari produk keuangan syariah.
6. Literasi Sebagai Pemicu Perubahan dan Inklusi
Dengan pemahaman yang baik, masyarakat tidak hanya teredukasi mengenai prinsip syariahs seperti larangan riba, prinsip mudharabah atau bagi hasil, dan keadilan dalam transaksi tapi juga dapat membuat pilihan finansial yang lebih aman dan terencana.
Generasi muda yang paham tentang keuangan syariah bisa menjadi agen perubahan yang memperluas inklusi melalui praktik sehari-hari dan media digital. Terlebih, kampanye digital dan permainan edukasi seperti yang dilakukan Allianz Syariah terbukti lebih menarik dan berkesan bagi audiens muda.
Kesimpulan
Literasi keuangan syariah berfungsi sebagai dasar untuk memfasilitasi perubahan nyata menuju masyarakat yang lebih inklusif dan berdaya. Meskipun telah terjadi kemajuan dengan tingkat literasi mencapai 39 % pada tahun 2024, tingkat inklusi masih tergolong rendah di angka 12,88 %. Kerja sama antara pemerintah, OJK, BI, KNEKS, pelaku industri, dan inovasi pendidikan yang tepat seperti kampanye Ramadan, lomba tingkat nasional, pelatihan duta literasi, dan metode yang interaktif memiliki peranan penting dalam mengurangi jurang antara pengetahuan dan praktik.
Apabila target literasi dan inklusi sebesar 50 % dapat tercapai pada tahun 2025, Indonesia akan semakin kuat sebagai pusat ekonomi syariah dengan masyarakat yang memiliki kecerdasan finansial serta selektif dalam memilih produk keuangan.
Referensi:
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2024). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan
(SNLIK) 2024. Diakses dari https://ojk.go.id
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2022). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022. Diakses dari https://ojk.go.id
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2024). OJK Gelar GERAK Syariah 2024: Kampanye
Nasional Keuangan Syariah Selama Bulan Ramadan. Siaran Pers. Diakses dari https://ojk.go.id
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2024). Penguatan Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah di Kalangan Pelajar Melalui Olimpiade Keuangan Syariah. Siaran Pers. Diakses dari https://ojk.go.id
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2024). Perluas Edukasi Keuangan Syariah, OJK Gelar Pelatihan Bagi Perencana Keuangan. Siaran Pers. Diakses dari https://ojk.go.id
Bank Indonesia (BI). (2025, Februari). BI Optimis Target 50 Persen Literasi Ekonomi Syariah di 2025 Tercapai. Antara News. Diakses dari https://www.antaranews.com
Allianz Indonesia. (2025, Maret). Indeks Literasi Keuangan Syariah di Kalangan
Pelajar Rendah, Allianz Syariah Lakukan Kegiatan Literasi Keuangan Bagi Siswa-Siswi
Tingkat SMA. Diakses dari https://www.allianz.co.id
Times Indonesia. (2024, November). Menuju Inklusi Keuangan Syariah yang Berkelanjutan. Diakses dari https://timesindonesia.co.id
Kompas.com. (2024, Maret). OJK: Literasi Keuangan Syariah Naik Signifikan, tapi Inklusi Masih Rendah. Diakses dari https://money.kompas.com

