Suaramuslim.id | Jakarta–Kisah ini sudah sangat terkenal. Bahkan, kisah ini menjadi salah satu sebab diturunkannya syariat berqurban di bulan Haji. Tatkala Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi menyembelih anaknya sendiri, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Awalnya ia ragu, apakah mimpi ini benar dari Allah? Ketika mimpi itu terus hadir di tidurnya, Ia pun membuka dialog dengan anak tercintanya. Karena keimanan menghujam tajam telah terpatri di relung jiwa Ayah dan anak ini, akhirnya mereka sama-sama mengikhlaskan apa yang Allah perintahkan.
Tentu amat berat. Bagaimana tidak, sebelum Ismail beranjak dewasa pun, Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk mengasingkan dan membawa Hajar serta Ismail kecil ke tempat tak berpenghuni. Tempat yang minim adanya makanan dan minuman. Tempat yang gersang. Tapi Ibrahim berusaha mengikhlaskan dan menjalankan apa yang Allah perintahkan tanpa bernegosiasi. Alhasil, ketika Ibrahim ikhlas meninggalkan istri dan anaknya di tempat yang gersang karena perintah Allah, sampai detik ini kita masih bisa menikmati air zam-zam yang terus memancarkan keberkahan.
Itulah buah manis dari keikhlasan yang dipenuhi dengan ketaatan. Allah hadirkan sesuatu yang lebih baik, bahkan Allah berikan hal-hal yang tak terduga oleh nalar manusia ketika kita mengikhlaskan sesuatu karenaNya. Tidak mungkin Allah berbuat dzolim terhadap hambaNya. Kembali ke kisah detik-detik Ibrahim akan ‘mengeksekusi’ anak kandungnya sendiri, didasari keikhlasan karena Allah.
Allah tahu bahwa seorang hamba yang bernama Ibrahim ‘alaihissalam akan patuh dan taat menjalankan apapun perintah dari tuhannya. Karena ia adalah hamba dan Nabi yang terpilih. Maka Allah gantikan seekor domba untuk bertukar posisi dengan Ismail yang tadinya sudah akan disembelih oleh Ibrahim. Diganti yang lebih baik. Peristiwa yang meninggalkan sejarah, juga syariat terarah yang hadir untuk kelangsungan hidup bersama yang penuh barokah.
Dengan keikhlasannya lah kita belajar. Bahwa, keikhlasan yang kita usahakan, akan membawa dampak kebaikan bukan hanya untuk diri kita sendiri. Melainkan, orang-orang terdekat pun akan merasakan dampak yang baik pula. Maka disinilah kita berlatih mengikhlaskan apa-apa yang sudah berlalu.
Seperti kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dan ayahnya, Nabi Yakub ‘alaihissalam. Peristiwa yang membuat Nabi Yakub amat terpukul, sampai-sampai air matanya terus mengalir menyebabkan ia kehilangan penglihatannya. Ia tahu, bahwa saudara-saudara Yusuf, menyembunyikan fakta ketika mereka mengajak Yusuf pergi. Mereka mengatakan Yusuf diterkam hewan buas. Seorang Ayah tentu merasakan ikatan batin yang kuat, bahwa Yusuf belum meninggal.
Ketika pada akhirnya Allah berkehendak Yusuf diangkat menjadi bendahara Mesir. Saudara-saudara Yusuf pun pergi ke Mesir meminta bantuan, karena di tempat tinggal mereka sedang mengalami paceklik. Pertemuan yang tak terduka. Mereka tidak mengenali Yusuf, tapi Yusuf selalu ingat persis dengan keluarganya.
Bukankah itu adalah kesempatan emas bagi Yusuf untuk bisa bertemu degan sang Ayah dan saudaranya yang Bernama Bunyamin? Tapi, ada satu hal yang membuat Yusuf harus menahan rindu lagi. Ia belum mendapat wahyu dari Allah untuk menemui ayahnya. Yang padahal itu sangat mudah dilakukan bagi seorang bendahara Mesir. Allah maha tahu, sang Ayah belum benar-benar ikhlas atas peristiwa yang terjadi di masa lampau. Karena itulah, Allah menahan Yusuf untuk tidak langsung memberi tahu kondisinya saat ini kepada saudara-saudaranya.
Sampai suatu hari, ketika Allah ilhamkan dan Allah bukakan keikhlasan hati seorang Ayah terhadap anaknya atas peristiwa memilukan itu, Yusuf dengan segera bertindak, memberikan bajunya kepada Yakub supaya bisa melihat normal lagi, atas izin Allah. Kemudian ia pun siap berangkat menemui Ayah tercintanya.
Dari kisah diatas, kita bisa menyimpulkan, bahwa apapun masa lalu yang kita lewati sekalipun itu hal yang kurang mengesankan atau bahkan meninggalkan jejak kesedihan. Ketika kita ikhlas dan ridho, Allah akan bukakan jalan kemudahan dan hal positif yang kita peroleh. Dibandingkan jika terus merasa terpuruk akan masa lalu yang kelam, kita tidak akan bisa membuka jalan berikutnya, sebelum kita mengikhlaskan peristiwa di masa lampau.
Adanya luka, amarah, rasa kesal ataupun kecewa di masa lalu. Cobalah untuk mengikhlaskan secara perlahan. Mohon pertolongan kepada Allah supaya kita diberikan kelapangan hati dan keikhlasan disertai ketaatan. Ketika kita sudah mengikhlaskan dan ridho dengan segala yang terjadi, maka orang-orang yang ada di sekitar kita juga turut merasakan ketenangan. Terutama keluarga yang selalu menemani kita di setiap keadaan.
Jadikan peristiwa di masa lalu sebagai pelajaran dan tolak ukur kita untuk berbenah menjadi hamba yang semakin terarah. Boleh sedih, itu adalah hal yang manusiawi. Asalkan kita tidak larut dalam kesedihan yang mendalam. Pelajari dan tadaburilah kisah orang-orang terdahulu di dalam Al Qur’an. Yakini, setiap kita bisa menjadi mulia dihadapanNya, apapun masa lalu kita. [inayah]

