SUARA MUSLIM | Putraku tidak pernah menaruh perhatian sedikitpun dalam urusan agama. Ia telah tenggelam dalam urusan dunianya. Ketika saya mengingatkannya tentang shalat, atau membangunkannya agar mengerjakan shalat, ia sangat tidak menggubrisku. Maka, saya mengalami depresi dan merasa terpukul sekali.
Saya memilih waktu-waktu yang mustajab, khususnya pada sepertiga malam terakhir, untuk berdoa. Kupanjatkan doa kepada Allah agar Dia berkenan untuk menjadikan buah hatiku tergolong orang-orang yang mendirikan shalat.
Saat itu, saya mengulang-ulang doa ini, (رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء )
“Ya Tuhanku, jadikanlah saya dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (Ibrahim: 40)
Saya banyak memanjatkan doa ini dengan penuh kekhusyukan dan ketulusan. Juga dengan berlinangan air mata dan sikap merendahkan diri kepada Allah, khususnya ketika saya membayangkan bahwa anakku masuk ke dalam neraka disebabkan sikap arogannya yang enggan mendirikan shalat.
Dua tahun telah berlalu, dan saya pun terus dalam keadaan yang seperti itu. saya mengadukan rahasia dan kesedihanku ini hanya kepada Allah.
Sampai suatu hari, saya melihat anakku berdiri melakukan shalat! Bahkan, ia pun amat memelihara shalatnya, sampai ia menerangkan kepada orang-orang tentang pentingnya shalat itu.
Lalu saya memuji Allah, dan saya sangat yakin benar bahwa Allah itu Maha Mendengar lagi Mengabulkan doa. Dialah Yang me- ngabulkan permohonan orang-orang yang sedang kesusahan.
Sesungguhnya, fasilitas luar biasa yang kugunakan di dalam pengalamanku ini adalah keikhlasan dalam berdoa kepada Allah, dan senantiasa meminta-minta dengan terus “mendesak-Nya” (al-ikhlash fid du’a wal ilhah fihi).
Muhammad ibnul-Mubarak ash-Shuri berkata,
“Dahulu Said, jika ketinggalan berjamaah dalam shalat, maka ia menangis.” Maksudnya adalah Sa’id bin Abdul ‘Aziz at-Tanukhi.[]
Sumber:
Hana binti Abdul Azis Ash-Shani Judul ‘Mendidik Anak Agar Terbiasa Shalat’, Penerbit Akbar

