SUARA MUSLIM | Jakarta–Saya memohon pertolongan kepada Allah dalam usaha saya membiasakan buah hati saya untuk mengerjakan shalat dengan mengharap ganjaran yang besar dari Rabb Yang Mahamulia. Kemudian saya selalu berdoa untuk perbaikan hati anak-anak saya.
Saya sudah memerintahkan mereka untuk mengerjakan shalat sejak usia dini, kira-kira di usia 7 (tujuh) tahun. Saya jadikan mereka rindu terhadap ganjaran-ganjaran yang disediakan Allah bagi orang yang melakukan shalat. Saya deskripsikan surga dan neraka kepada mereka. Dalam momen-momen yang tepat, saya sering mengaitkan antara kenikmatan surga dan kenikmatan dunia, dengan membandingkan di antara keduanya sehingga mengendap di hati anak-anakku, dan mereka bertindak karenanya.
Ketika saya lihat anak-anak saya larut dalam suatu permainan, padahal waktu shalat sudah datang, saya katakan kepada mereka dengan suara lembut dan tidak langsung, “Mari kita shalat agar memperoleh ganjaran dan pahala dari Allah! Siapa yang mau duluan mendapatkan ridha Allah? Allah senang dengan orang yang mengerjakan shalat, dan akan memberikan kenikmatan kepadanya di surga. Jauh lebih nikmat dari semua permainan kita sekarang!”
Saya punya cerita lain bersama putri saya yang usianya kini sudah dewasa.
Saat buah hatiku ini berusia 9 (sembilan) tahun, ketika itu saya mulai membiasakannya untuk mengerjakan shalat subuh tepat pada waktunya. Hal itu terjadi setelah ia mendapatkan da’wah (pengarahan) terhadap kewajiban-kewajiban shalat lainnya.
Waktu itu putriku berkata, “Bunda, bangunkan saya untuk shalat subuh.” Namun, ketika saya membangunkannya saat subuh tiba, ia terlihat lunglai dan menangis, ingin tidur lagi. Lalu, saya pun membiarkannya.
Pada pagi harinya, saya ceritakan kejadian tersebut kepada- nya. Ia mengatakan kepadaku bahwa ia tidak menyadari hal itu. Kemudian ia memintaku untuk keesokan harinya berkenan kembali membangunkannya agar ia dapat mengerjakan shalat subuh tepat pada waktunya.
Kesokan harinya, kembali kubangunkan putriku. Lalu, ia bersikap sebagaimana yang ia lakukan di kali pertama. Kemudian saya berusaha membantunya. saya bawa ia ke kamar mandi, lalu kubasuhkan air ke wajahnya dengan lembut. Apa yang terjadi? la menjauh dariku dan menangis. Maka, saya berkata kepadanya, “Nak, kamu kan meminta kepada Bunda agar dibangunkan untuk shalat?”
Kemudian kubiarkan ia pergi ke tempat tidurnya dan ia tidur kembali. Di pagi harinya, saat matahari terbit, ia menyindirku, kenapa saya tidak membangunkannya untuk menunaikan shalat subuh! saya beritahukan kepadanya bahwa saya telah membangunkannya! Tetapi, kembali ia berkata, “Saya benar-benar tidak merasakan sesuatu pun!”
Saya tidak berputus asa. Bahkan, pada malam berikutnya saya kembali membangunkannya. Namun, keadaan seperti ini terus berulang berkali-kali, sampai akhirnya ia telah terbiasa mengerjakan shalat subuh, alhamdulillah.
Suatu malam, ketika buah hatiku telah tidur lebih awal dari waktu biasanya, saya sedang berbincang melalui telepon. Suaraku terdengar keras, sehingga putriku terbangun sambil memegang bed covernya yang besar, cukup untuk ukuran dua orang. Lalu, ia melipatnya untuk digunakan sebagai alas ia shalat! Tertegun saya melihatnya, dan saya merasakan kebahagiaan yang mendalam saat memandanginya!
Saya katakan kepadanya, “Tidak! Tidurlah Nak, karena waktu shalat belum tiba!”
Inilah da’wah (ajakan) dariku kepada setiap orangtua, “Ajarilah putra-putrimu tentang perkara-perkara agama sejak kecil mereka, sehingga mereka dapat menolongmu kelak, mengingatkanmu akan perkara-perkara agama, dan berdoa untukmu setelah kematianmu.”[]
Sumber:
Hana binti Abdul Azis Ash-Shani Judul ‘Mendidik Anak Agar Terbiasa Shalat’, Penerbit Akbar

